KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR YANG HARUS DIMILIKI OLEH SEORANG
PENGAJAR
MAKALAH
UNTUK
MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Keterampilan
Dasar Mengajar Geografi
Yang
di bina oleh Drs.Hadi Soekamto, S.H. M.Pd. M.Si.
Oleh
Desiana
Merawati
120721435503
Offering:
L
UNIVERSITAS NEGERI
MALANG
FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN GEOGRAFI
Januari 2015
DAFTAR ISI
Daftar Isi …………………………………………………………………
2
A. Pendahuluan ……………………………………………………....... 3
1. Latar Belakang …………………………………………….............
3
2. Rumusan Masalah …………………………………………………….3
B. Pembahasan …………………………………………………………
3
1. Bertanya
………………………………………………………………. 4
2. Memberi penguatan
………………………………………………….. 6
3. Mengadakan variasi
…………………………………………………. 10
4. Menjelaskan
…………………………………………………………. 16
5. Membuka dan menutup
pelajaran ………………………………….. 19
6. Membimbing diskusi
kelompok kecil ……………………………… 23
7. Mengelola kelas
……………………………………………………. 25
8. Mengajar kelompok kecil
dan perorangan …………………………… 26
BAB III
Penutup dan saran ……………………………………………………28
1. Penutup ……………………………………………………………….. 28
2. Saran ………………………………………………………………….. 28
Daftar Rujukan
…………………………………………………………… 29
BAB I
PENDAHULUAN
1.
Latar belakang
Perkembangan pendidikan
di Indonesia dari tahun ke tahun dapat dikatakan mengalami peningkatan.
Peningkatan tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Misalnya kurikulum
pendidikan yang ideal, sarana prasarana yang memadai di setiap sekolah dan yang
tidak kalah penting dari semua faktor tersebut ialah faktor pengajar atau
kinerja guru. Kinerja guru dalam proses pembelajaran dapat mempengaruhi
perkembangan pendidikan. Hal ini karena tidak semua guru dapat mengajar peserta
didiknya dengan baik atau profesional.
Mengajar adalah satu pekerjaan professional, yang
menuntut kemampuan yang kompleks untuk dapat melakukannya. Pekerjaan seorang
pengajar menuntut keahlian tersendiri, sehingga tidak setiap orang mampu
melakukan pekerjaan tersebut. Perangkat kemampuan seorang pengajar sudah ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah
nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, seorang pengajar
dituntut untuk menguasai kompetensi pedagogis, professional, kepribadian, dan
sosial. Kompetensi
pedagogis merupakan salah satu kemampuan melaksanakan pembelajaran yang
mendidik. Agar dapat melaksanakan
pembelajaran yang mendidik, dapat melaksanakan yang mendidik dengan baik,
menguasai berbagai kemampuan.
2. Rumusan
Masalah
1. Apa pengertian dari Keterampilan
Dasar Mengajar?
2. Apa sajakah keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang
guru ketika mengajar?
BAB II
LANDASAN TEORI
Menurut
Peraturan Pemerintah nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan,
seorang guru dituntut untuk menguasai kompetensi pedagogis, professional,
kepribadian, dan sosial. Kompetensi pedagogis merupakan salah satu kemampuan
melaksanakan pembelajaran yang mendidik. Agar dapat melaksanakan pembelajaran yang
mendidik, dapat melaksanakan yang mendidik dengan baik, menguasai berbagai
kemampuan.
Menurut hasil penelitian (Turney, 1979)
terdapat 8 keterampilan dasar mengajar yang dianggap berperan penting dalam
menentukan keberhasilan pembelajaran. Keterampilan yang dimaksud adalah
keterampilan:
1.
Bertanya
Bertanya merupakan keterampilan
yang bersifat mendasar dan paling sederhana yang dipersyaratkan bagi penguasaan
keterampilan berikutnya. Berkenaan dengan penguasaan. Dalam proses belajar
mengajar , bertanya memainkan peranan penting sebab pertanyaan yang tersusun
dengan baik dan teknik pelontaran yang tepat akan memberikan dampak positif
terhadap peserta didik , yaitu :
a. Meningkatkan partisipasi siswa dalam dalam kegiatan belajar mengajar,
a. Meningkatkan partisipasi siswa dalam dalam kegiatan belajar mengajar,
b. Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa
terhadap suatu masalah yang sedang dihadapi atau dibicarakan,
c. Mengembangkan pola dan cara belajar aktif dari peserta didik untuk menegmbangkan rasa keingin tahuan dengan carabertanya,
d. Menuntun proses berfikir peserta didik sebab pertanyaan yang baik akan membantu peserta didik agar menentukan jawaban yang baik.
e. Memusatkan perhatian peserta didik terhadap masalah yang sedang dibahas.
c. Mengembangkan pola dan cara belajar aktif dari peserta didik untuk menegmbangkan rasa keingin tahuan dengan carabertanya,
d. Menuntun proses berfikir peserta didik sebab pertanyaan yang baik akan membantu peserta didik agar menentukan jawaban yang baik.
e. Memusatkan perhatian peserta didik terhadap masalah yang sedang dibahas.
Keterampilan dan kelancaran
bertanya dari calon pengajar maupun dari pengajar itu perlu dilatih dan
ditingkatkan, baik isi pertanyaannya maupun teknik bertanya .
a. Dasar- dasar pertanyaan yang baik
• Berikan informasi yang cukup untuk menjawab pertanyaan
• Difokuskan pada suatu masalah atau tugas tertentu
• Berikan waktu yang cukup kepada anak untuk berfikir sebelum menjawab pertanyaan.
• Bagikanlah semua pertanyaan kepada seluruh murid secara merata.
• Berikan respon yang ramah dan menyenangkan sehingga timbul keberanian siwa untuk menjawab atau bertanya.
• Tuntunlah jawaban siswa sehingga mereka dapat menemukan sendiri jawaban yang benar.
• Berikan informasi yang cukup untuk menjawab pertanyaan
• Difokuskan pada suatu masalah atau tugas tertentu
• Berikan waktu yang cukup kepada anak untuk berfikir sebelum menjawab pertanyaan.
• Bagikanlah semua pertanyaan kepada seluruh murid secara merata.
• Berikan respon yang ramah dan menyenangkan sehingga timbul keberanian siwa untuk menjawab atau bertanya.
• Tuntunlah jawaban siswa sehingga mereka dapat menemukan sendiri jawaban yang benar.
b. Jenis –jenis pertanyaan yang baik
• Jenis pertanyaan yang menurut maksudnya
1) Pertanyaan permintaan ( compliance question )
2) Pertanyaan retoris ( rhetorical question)
3) Pertanyaan mengarahkan atau menuntun ( prompting question)
4) Pertanyaan menggali ( probing question)
• Jenis pertanyaan yang menurut maksudnya
1) Pertanyaan permintaan ( compliance question )
2) Pertanyaan retoris ( rhetorical question)
3) Pertanyaan mengarahkan atau menuntun ( prompting question)
4) Pertanyaan menggali ( probing question)
• Jenis pertanyaan menurut taksonomi bloom
1) Pertanyaan pengetahuan
2) Pertanyaan pemahaman
3) Pertanyaan penerapan
4) Pertanyaan sintetis
5) Pertanyaan evaluasi
1) Pertanyaan pengetahuan
2) Pertanyaan pemahaman
3) Pertanyaan penerapan
4) Pertanyaan sintetis
5) Pertanyaan evaluasi
c. Hal
– hal yang perlu diperhatikan
1) Kehangatan atau keantusiasan.
Sikap dan cara pengajar termasuk suara, ekspresi wajah, gerakan, dan posisi badan menampakkan ada tidaknya kehangatan dan keantusiasannya.
2) Kebiasaan yang perlu dihindari .
Guru harus menghindari kebiasaan seperti :
a) Menjawab pertanyaan sendiri.
b) Mengulang jawaban siswa
c) Mengulang pertanyaan sendiri
d) Mengajukan pertanyaan dengan jawaban yang serentak
e) Menentukan siswa yang harus menjawab sebelum bertanya
f) Mengajukan pertanyaan ganda.
1) Kehangatan atau keantusiasan.
Sikap dan cara pengajar termasuk suara, ekspresi wajah, gerakan, dan posisi badan menampakkan ada tidaknya kehangatan dan keantusiasannya.
2) Kebiasaan yang perlu dihindari .
Guru harus menghindari kebiasaan seperti :
a) Menjawab pertanyaan sendiri.
b) Mengulang jawaban siswa
c) Mengulang pertanyaan sendiri
d) Mengajukan pertanyaan dengan jawaban yang serentak
e) Menentukan siswa yang harus menjawab sebelum bertanya
f) Mengajukan pertanyaan ganda.
Ada 4 alasan mengapa seseorang
guru perlu menguasai keterampilan bertanya :
1. Pada umumnya guru masih sering mendominasi kelas dengan metode ceramah.
2. Kebiasaan yang tumbuh dalam masyarakat kita tidak membiasakan anak untuk bertanya , sehingga keinginan anak untuk bertanya selalu terpendam.
3. Penerapan pendekatan CBSA adalah kegiatan pembelajaran menuntut keterlibatan siswa secara mental intelektual.
4. Adanya anggapan bahwa pernyataan yang diajukan guru berfungsi untuk menguji pemahaman siswa.
1. Pada umumnya guru masih sering mendominasi kelas dengan metode ceramah.
2. Kebiasaan yang tumbuh dalam masyarakat kita tidak membiasakan anak untuk bertanya , sehingga keinginan anak untuk bertanya selalu terpendam.
3. Penerapan pendekatan CBSA adalah kegiatan pembelajaran menuntut keterlibatan siswa secara mental intelektual.
4. Adanya anggapan bahwa pernyataan yang diajukan guru berfungsi untuk menguji pemahaman siswa.
2.
Memberi
penguatan
Penguatan adalah
respons yang diberikan terhadap perilaku atau perbuatan yang dianggap baik,
yang dapat membuat terulangnya atau meningkatnya perilaku atau perbuatan yang
dianggap baik tersebut. Penguatan dalam
kegiatan pembelajaran mempunyai peran penting untuk meningkatkan keefektifan
kegiatan pembelajaran. Pujian atau respons positif guru terhadap perilaku
perbuatan peserta didik yang positif akan membuat peserta didik merasa senang
karena dianggap mempunyai kemampuan. Dalam kaitan dengan kegiatan pembelajaran,
tujuan member penguatan dilakukan untuk:
a. Meningkatkan
perhatian siswa
b. Membangkitkan
dan memelihara motivasi siswa
c. Memudahkan
siswa belajar
d. Mengontrol
dan memodifikasi tingkah laku siswa serta mendorong munculnya perilaku yang
positif
e. Menumbuhkan
rasa percaya diri pada diri siswa
f. Memelihara
ikhlas kelas yang kondusif
· Komponen
keterampilan memberi penguatan
Penguatan pada dasarnya
dapat diberikan dalam dua jenis yaitu penguatan verbal dan penguatan nonverbal.
Komponen-komponen keterampilan memberikan penguatan yang harus dikuasai oleh
guru berkaitan dengan keterampilan menggunakan kedua jenis penguatan tersebut.
Secara terperinci, komponen-komponen tersebut adalah sebagai berikut:
1)
Penguatan
verbal
Penguatan verbal
merupakan penguatan yang paling mudah digunakan dalam kegiatan pembelajaran yang
dapat diberikan dalam bentuk komentar, pujian, dukungan atau dorongan yang
diharapkan dapat meningkatkan tingkah laku dan penampilan peserta didik.
Komentar, pujian, dan sebagainya tersebut dapat diberikan dalam bentuk
kata-kata atau kalimat seperti berikut:
a)
Kata-kata: bagus, baik, benar, ya, betul
atau tepat sekali.
b)
Kalimat:
ü Pekerjaanmu
rapi benar.
ü Kalimat-kalimat
anda sangat bagus susunannya.
ü Cara
anda berfikir cukup sistematis.
ü Semakin
lama pekerjaan anda semakin baik.
2)
Penguatan
nonverbal
Penguatan nonverbal
dapat ditujukan dengan berbagai cara sebagai berikut:
a. Mimik
dan gerakan badan
Mimik dan gerakan badan
seperti senyuman, anggukan, tepuk tangan atau acungan ibu jari dapat
mengkomunikasikan kepuasan guru terhadap respon peserta didik yang tentu saja
merupakan penguatan yang sangat berarti bagi peserta didik. Mimic dan gerakan
badan dapat dipakai bersama-sama dengan penguatan verbal.
b. Gerakan
mendekati
Gerakan mendekati dapat
ditunjukkan pengajar dengan cara melangkah mendekati peserta didik, berdiri
disamping peserta didik atau kelompok peserta didik, bahkan dalam situasi
tertentu peserta didik tertentu duduk bersama peserta didik atau kelompok
peserta didik. Tujuan gerak mendekati sebagai pemberian perhatian, menunjukkan
rasa senang akan pekerjaan peserta didik, atau bahkan juga memberikan rasa aman
kepada peserta didik. Bentuk penguatan ini biasanya dipakai bersama-sama dengan
bentuk penguatan verbal, artinya ketika pengajar mendekati peserta didik,
pengajar mengucapkan kata-kata tertentu sebagai penguatan. Kombinasi ini
biasanya memperkuat efek penguatan, namun harus dibatasi pemakaiannya sehingga
efektivitasnya tidak menurun.
c. Sentuhan
Sentuhan yang dimaksud
seperti menepuk-nepuk bahu atau pundak peserta didik, menjabat tangan peserta
didik atau mengangkat tangan peserta didik yang menang jika dilakukan dengan
tepat, dapat merupakan penguatan yang efektif bagi pesrta didik. Namun, jenis
penguatan ini harus dipergunakan dengan penuh kehati-hatian dengan
memperhatikan umur, jenis kelamin, serta latar belakang budaya dari peserta
didik.
d. Kegiatan
yang menyenangkan
Pada dasarnya, peserta
didik akan menjadi senang apabila diberikan kesempatan untuk mengerjakan
sesuatu yang menjadi kegemarannya atau sesuatu yang memungkinkan peserta didik
berprestasi. Oleh sebab itu, kegiatan yang disenangi peserta didik dapat
digunakan sebagai penguatan. Akan menjadai lebih efeketif lagi apabila kegiatan
yang dijadikan penguatan tersebut dikaitkan dengan penampila yang diberikan
penguatan.
e. Pemberian
simbol atau benda
Penguatan dapat pula
diberikan dalam bentuk simbol atau benda tertentu. Symbol dapat berupa tanda
cek (√), komentar tertulis pada peserta didik, berbagai tanda dengan warna
tertentu, misalnya hijau, ungu, kuning atau merah. Sementara untuk benda yang
digunakan sebagai penguatan adalah benda-benda kecil yang harganya tidak terlalu
mahal, tetapi berarti bagi peserta didik. Misalnya kartu bergambar, pensil atau
buku, pin, dll.
Pemberian penguatan
dengan menggunakan symbol atau benda hendaknya tidak terlalu sering dilakukan
agar “makna”nya tidak hilang atau agar peserta didik tidak memandangnya sebagai
satu target dari penampilannya. Pemberian komentar tertulis pada pekerjaan
peserta didik, lebih-lebih yang memungkinkan peserta didik memperbaiki atau
meningkatkan penampilannya sebaiknya diberikan secara teratur.
3)
Penguatan
tak penuh
Selain dari kedua jenis
penguatan tersebut, ada satu cara pemberian penguatan yang disebut penguatan
tak penuh. Sesuai dengan namanya, penguatan tak penuh diberikan untuk jawaban
atau respon peserta didik yang hanya sebagian benar, sedangkan bagian lainnya
masih perlu diperbaiki. Oleh karena itu, pengajar perlu berkata baik dan
mendorong peserta didik untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Misalnya
“Bagaimana pertama dari jawaban anda sudah benar, tetapi alasan yang anda
berikan belum mantap”. kemudian pengajar mengajak peserta didik secara
bersama-sama memperbaiki jawaban tersebut. Sehingga dengan cara seperti itu,
peserta didik akan memahami kualitas jawabannya sebagai penguat yang diberikan
pengajar benar-benar bermakna.
·
Prinsip penguatan
Agar penguatan yang
diberikan pengajar dapat berfungsi secara efektif, pengajar hendaknya
memperhatikan prinsip-prinsip pemberian penguatan sebagai berikut:
1)
Kehangatan dan keantusiasan
Penguatan yang
diberikan pengajar harus disertai dengan kehangatan dan keantusiasan.
Kehangatan dan keantusiasan dapat ditunjukkan dengan berbagai cara, misalnya
dengan muka atau wajah beseri disertai senyuman, suara yang riang penuh
perhatian. Sebaliknya penguatan yang diberikan dengan suara lesu, acuh tak
acuh, wajah yang murung, tidak akan ada pengaruh positif bagi peserta didik.
Peserta didik akan merasa ucapan pengajar, hanya merupakan kata-kata klise yang
tidak memiliki makna.
2)
Kebermaknaaan
Penguatan yang
diberikan pengajar harus bermakna bagi peserta didik. Artinya peserta didik
memang merasa terdorong untuk meningkatkan penampilannya. Dengan kata-kata atau
kalimat yang akan dapat mendorong peserta didik untuk lebih giat dalam belajar.
3)
Menghindari penggunaan respon negatif
Respons
yang negatif dari seorang pengajar merupakan senjata ampuh yang dapat
menghancurkan suasana kelas yang kondusif dan kepribadian peserta didik
sendiri. Oleh sebab itu pengajar hendaknya menghindari dari segala jenis
respons negatif tersebut. Apabila peserta didik memebrikan jawaban atau
menunjukkan penampilan yang tidak memuaskan, pengajar hendaknya menahan diri
dari keinginan mencela atau mengejek jawaban atau penampila peserta didik.
Disamping ketiga
prinsip pemberi penguatan diatas, pengajar hendaknya memperhatikan hal-hal
sebagai berikut:
1) Sasaran
penguatan yang diberikan oleh pengajar harus jelas, misalnya memberikan
penguatan kepada peserta didik “Tita, karanganmu hari ini bagus sekali”. Dengan
demikian, setiap penguatan yang diberikan oleh pengajar harus jelas sasarannya,
apakah ditujukan kepada pribadi tertentu atau kepada kelompok kecil peserta
didik atau kepada seluruh peserta didik.
2) Penguatan
harus diberikan dengan segera setelah peserta didik menunjukkan respons yang
diharapkan. Penguatan dalam hal tersebut merupakan pengaruh positif yang
diharapkan tidak menurun atau bahkan hilang. Dengan kata lain, tidak ada waktu
tunggu antara respons yang ditunjukkan dengan penguatan yang diberikan.
3) Variasi
dalam penggunaan sebagai pemberian penguatan akan kaya dan berdampak cukup
tinggi pada peserta didik. Penguatan verbal secara terus menerus dengan
kata-kata yang sama, diiringi dengan mimik dan gerakan badan sehingga
memberikan kesan yang tidak akan membosankan peserta didik.
3.
Mengadakan
variasi
Variasi adalah keanekaan
yang membuat sesuatu tidak monoton. Variasi dapat berwujud perubahan-perubahan
atau perbedaan-perbedaan yang sengaja diciptakan atau dibuat untuk memberikan
kesan yang unik. Penggunaan variasi dalam kegiatan pembelajaran di kelas sangat
perlu untuk dilakukan agar peserta didik tidak merasa bosan. Perlunya melakukan
permiainan seperti kuis dalam kegiatan pembelajaran akan menunjang keefektifan
prose pembelajaran di kelas. Dalam hal ini, pengajar perlu menguasai
keterampilan mengadakan variasi.
Variasi di dalam
kegiatan pembelajaran bertujuan antara lain untuk hal-hal sebagai berikut:
a. Menghilangkan
kenosanan peserta didik dalam belajar,
b. Meningkatkan
motivasi peserta didik dalam mempelajari sesuatu,
c. Mengembangkan
keinginan peserta didik untuk mengetahui dan menyelidiki hal-hal baru,
d. Melayani
gaya belajar peserta didik yang beraneka ragam, dan
e. Meningkatkan
kadar keaktifan atau keterlibatan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.
Dengan
tujuan seperti itu, dapat dipahami betapa pentingnya keterampilan mengadakan
variasi bagi sengorang pengajar. Dengan diadakan variasi oleh sengorang
pengajar, bukan hanya peserta didik saja yang memperoleh kepuasan belajar,
tetapi pengajar pun akan memperoleh kepuasan dalam mengajar. Oleh karena itu,
pengajar harus mampu mengadakan variasi dalam kegiatan pembelajaran yang
dikelolanya.
· Komponen-komponen
keterampilan mengadakan variasi
Pada dasarnya, variasi
dalam kegiatan pembelajaran mempunyai prinsip penggunaan dan tujuan
masing-masing yang dikelompokkan menjadi
tiga, yakni:
1) Variasi
dalam gaya belajar
Banyak cara yang dilakukan
seorang pengajar dalam menyampaikan suatu materi dengan gaya mereka
masing-masing. Dalam hal tersebut, peserta didik mengetahui karakter seorang
pengajar. Sangat banyak variasi gaya mengajar yang dapat dilakukan oleh seorang
pengajar. Secara garis besar, hal-hal yang berkaitan dengan gaya mengajar yang
dapat divariasikan seorang pengajar berkisar pada butir-butir sebagai berikut:
a.
Variasi suara
Suara seorang pengajar
dapat dikatakan sebuah faktor yang sangat penting di dalam kelas. Hal tersebut
disebabkan sebagian besar kegiatan di kelas akan bersumber dari hal-hal yang
disampaikan oleh seorang pengajar secara lisan. Suara seorang pengajar yang
meninggi secara terus-menerus akan membuat pendengar menjadi tercapai, demikian
juga suara lemah secara terus-menerus akan membuat pendengar mengantuk atau
perhatian terpecah. Oleh karena itu, seorang pengajar dapat memvariasikan
suaranya:
ü Dari
besar ke kecil,
ü Dari
tinggi ke rendah,
ü Dari
cepat ke lambat,
ü Dari
nada sedih ke nada gembira, dan
ü Dengan
member tekanan tertentu melalui suara lambat-lambat.
b. Pemusatan
perhatian
Seorang pengajar sering
menginginkan agar peserta didik memperhatikan butir-butir penting yang sedang
disampaikan. Hal ini dapat dilakukan dengan mengucap kata-kata tertentu yang
secara khusus disertai isyarat atau gerakan seperlunya. Misalnya “ini penting
diingat”, sambil menulis istilah yang perlu diingat.
c. Kesenyapan
Terkadang seorang
pengajar sedang asyik berbicara suasana kelas agak terganggu. Misalnya ada
seorang peserta didik yang mengantuk, berbicara atau bermain dengan peserta
didik yang lain. Untuk mengatasi hal ini, seorang pengajar dapat menerapkan
kesenyapan, yaitu diam sejenak sambil memandang kepada peserta didik yang
sedang sibuk sendiri. Perubahan atau variasi dari keadaan suara kesenyapan yang
tiba-tiba akan member pengaruh kepada peserta didik. Mereka secara spontan
dengan adanya perubahan atau variasi, dan akan kembali mendengarkan penjelasan
dari seorang pengajar.
d. Mengadakan
kontak pandang
Permasalahan yang
dihadapi oleh seorang pengajar muda yaitu ketika berdiri di depan kelas sambil
menundukkan kepala atau memandang ke satu tempat tertentu. Ketidakmampuan
memandang peserta didik merupakan kekurangan bagi seorang pengajar untuk
mengadakan variasi. Kontak pandang dengan seluruh peserta didik merupakan
senjata ampuh bagi seorang pengajar dalam mengajar.seorang pengajar yang
memadang peserta didiknya ketika mendengarkan pembicaraan tersebut akan menunjukkan
sikap penuh perhatian terhadap masalah yang dibicarakan.
e. Gerakan
badan dan mimik
Mimik dan gerakan
merupakan alat komunikasi yang efektif. Variasi mimic dan gerakan badan yang
dilakukan secara tepat dapat mengkomunikasikan pesan secara lebih efektif dibandingkan
dengan ucapan bertele-tele. Mimik dan gerakan badan yang dapat divariasikan,
antara lain:
ü Ekspresi
wajah: tersenyum, mengerutkan kening, mengangkat alis, cemebrut, dan tertawa.
ü Gerakan
kepala: menggeleng, mengangguk, tegak atau mengangkat kepala, dan menunduk.
ü Gerakan
tangan: mengangkat tangan, mengacungkan ibu jari, mengepalkan tangan untuk
menegaskan, dan bertepuk tangan.
ü Gerakan
bahu: mengangkat bahu.
ü Gerakan
badan secara keseluruhan: berdiri baku, bersikap santai, gerak mendekati atau menjauhi.
f. Perubahan
dalam posisi seorang pengajar
Posisi seorang pengajar di dalam kelas juga
berpengaruh kepada kegairahan peserta didik untuk belajar. Sebagai seorang
pengajar, tidak hanya berdiam diri berdiri di depan papan tulis atau duduk di
tempat. Seorang pengajar dapat memvariasikan posisinya secara wajar, misalnya
berdiri di depan kelas, pindah kesamping atau ketengah.
2) Variasi
dalam pola interaksi dan kegiatan
Pola
interaksi dan kegiatan pembelajaran dapat bervariasi yang paling didominasi
seorang pengajar berpusat pada peserta didik sendiri. Variasi pola interaksi
dan kegiatan peserta didik bervariasi dan akan sangat kaya wawasan. Pola
interaksi dapat diubah dari interaksi satu arah (pengajar ke peserta didik) ke
interaksi dua arah sampai ke semua arah (peserta didik ke peserta didik lain,
peserta didik ke pengajar, dan seterusnya). Berikut berbagai contoh variasi
pola interaksi dan kegiatan:
a. Kegiatan
klasik
ü Mendengarkan
informasi dan tanya-jawab secara klasikal atau diskusi,
ü Demonstrasi
oleh pengajar atau peserta didik mengenai satu keterampilan atau percobaan, dan
ü Menyaksikan
tanyangan film, video atau permainan peran yang kemudian diikuti oleh diskusi
atau tugas-tugas lain.
b. Kegiatan
kelompok kecil
ü Mendiskusikan
pemecahan suatu masalah,
ü Menyelesaikan
suatu proyek,
ü Melakukan
suatu percobaan atau observasi, dan
ü Melakukan
latihan suatu keterampilan.
c. Kegiatan
berpasangan
ü Mendiskusikan
jawaban pertanyaan yang diajukan secara klasikal, dan
ü Latihan
menggunakan alat tertentu.
d. Kegiatan
perorangan
ü Membaca
atau menelaah satu materi,
ü Mengerjakan
tugas-tugas individu,
ü Melakukan
observasi, dan
ü Melukukan
percobaan.
3) Variasi
dalam penggunaan alat bantu pembelajaran
Alat dan media
pembelajaran merupakan salah satu faktor penting dalam kegiatan pembelajaran.
Konsep yang sukar dan yang akan membosankan bagi peserta didik akan menjadi
menarik apabila disajikan dengan menggunakan media dan alat yang tepat.
Misalnya, terjadinya proses pembentukan awan akan lebih menarik disajikan
menggunakan media sparkol.
Alat bantu pelajaran
dapat divariasikan sesuai dengan fungsinya, sebagaimana peserta didik akan
mudah belajar dengan cara mendengarkan, melihat, meraba, mencium atau diberi
kesempatan untuk memanipulasi media atau alat bantu yang digunakan. Sesuai
dengan variasi tersebut, maka variasi penggunaan alat bantu pembelajaran dapat
dikelompokkan sebagai berikut:
a. Variasi
alat bantu pembelajaran yang dapat dilihat
Penggunaan alat bantu
pembelajaran yang dapat dilihat merupakan variasi yang kaya dan dapat
meningkatkan minat dan perhatian peserta didik pada kegiatan pembelajaran yang
sedang berlangsung. Variasi alat bantu pembelajaran dalam kelompok ini sangat
beragam, seperti gambar, grafik, peta, ukiran, slide, semuanya dapat digunakan
pengajar sesuai dengan topik yang sedang dibahas, baik dari karakteristik
peserta didik, tujuan pembelajaran, ketersediaan alat dan bahan, serta
kemampuan seorang pengajar dalam menggunakannya.
b. Variasi
alat bantu pembelajaran yang dapat didengar
Alat bantu yang
dapatmedominasi kelas, hendaknya seorang pengajar harus cukup mampu menarik
perhatian peserta didik. Seorang pengajar harus mampu memvariasikan suaranya,
selain itu dapat menggunakan variasi alat bantu yang dapat didengar seperti
pidato atau suara tokoh-tokoh terkemukaka. Variasi dapat pula dibuat dengan
meminta siswa membacakan puisi atau wacana tertentu kemudian menceritakan di
depan kelas.
c. Variasi
alat bantu pembelajaran yang dapat diraba dan dimanipulasi
Variasi yang terdapat
dalam bagian ini antara lain biji-bijian, binatang, alat-alat laboratorium dan
lain sebagainya. Penggunaan alat secara tepat akan mampu menumbuhkan dan
memelihara minat peserta didik dalam belajar.
·
Prinsip penggunaan
Prinsip
penggunaan dapat berfungsi secara efektif apabila seorang pengajar
memperhatikan sebagai befrikut:
1) Variasi
yang dibuat harus mengandung maksud tertentu yang disesuaikan dengan
karakteristik kemampuan peserta didik, kemampuan pengajar, dan lain sebagainya.
2) Variasi
harus terjadi secara wajar dan tidak berlebihan sehingga tidak mengganggu
proses belajar.
3) Variasi
harus berlangsung secara lancar dan berkesinambungan, tidak mengganggu suasana
kelas dan tidak mengganggu kegiatan belajar.
4) Komponen-komponen
variasi yang memerlukan pengorganisasian dan perencanaan yang baik perlu
dirancang secara cermat dan diccantumkan dalam rencana pembelajaran.
4. Menjelaskan
Kegiatan menjelaskan
bertujuan untuk:
a.
Membantu peserta didik memahami berbagai
konsep, hukum, dalil, dan sebagainya secara objektif dan nalar,
b.
Membimbing peserta didik menjawab
pertanyaan “mengapa” yang muncul dalam proses pembelajaran,
c.
Meningkatkan keterlibatan peserta didik
dalam memecahkan berbagai masalah melalui cara berfikir yang lebih sistematis,
d.
Mendapatkan balikan dari peserta
didiktentang tingkat pemahamannya terhadap konsep yang telah dijelaskan, dan
e.
Memberi kesempatan kepada peserta didik
untuk menghayati proses penelaran dalam penyelesaian ketidakpastian.
Untuk
penguasaan keterampilan menjelaskan akan memungkinkan seorang pengajar untuk:
a. Meningkatkan
efektivitas pembicaraan di kelas sehingga benar-benar merupakan penjelasan yang
bermakna bagi peserta didik,
b. Memperkirakan
tingkat pemahaman peserta didik terhadap penjelasan yang diberikan,
c. Membantu
peserta didik mengenali pengetahuan dari berbagai sumber,
d. Mengatasi
kekurangan berbagai sumber belajar, dan
e. Menggunakan
waktu secara efektif.
· Komponen-komponen
keterampilan menjelaskan
Keberhasilan
suatu penjelasan sangat bergantung dari tingkat penguasaan seorang pengajar
terhadap kketerampilan merencanakan penjelasan dan keterampilan menyajikan
penjelasan tersebut. Oleh karena itu, seorang pengajar dituntut untuk mampu
merencanakan dan menyajikan penyelasan. Berikut merupakan penjelasan dari kedua
jenis komponen:
1) Keterampilan
merencanakan penjelasan
a. Merencanakan
isi pesan (materi)
Merencanakan isi pesan
atau materi pembelajaran merupakan tahap awal dalam suatu proses menjelaskan.
Dalam hal ini perlunya perencanaan yang matang terkait materi yang akan
dijelaskan merupakan sebuah tahap awal keberhasilan dari kegiatan menjelaskan. Perencanaan
ini mencakup tiga hal penting, yaitu:
ü Menganalisis
masalah yang akan dijelaskan secara keseluruhan, termasuk unsur-unsur yang
terkait dalam masalah tersebut.
ü Menetapkan
jenis hubungan antara unsur-unsur yang berkaitan tersebut. Jenis hubungan ini
dapat berupa perbedaan, pertentangan, saling menunjang atau hubungan prasyarat.
ü Menelaah
hukum, rumus, prinsip atau generalisasi yang mungkin dapat digunakan dalam
menjelaskan masalah yang telah ditentukan. Termasuk dalam perencanaan ini
memungkinkan penerapan hukum tersebut termasuk kedalam peristiwa atau situasi
lain.
b. Menganalisis
karakteristik penerimaan pesan
Perencanaan suatu
penjelasan harus cermat dalam mempertimbangkan karakteristik dari peserta
didik. Hal utama yang harus diketahui oleh seorang pengajar yaitu pemahaman
peserta didik. Mampu tidaknya peserta didik memahami penjelasan dari pengajar
sangat bergantung dari kemampuan seorang pengajar menganalisis karakteristik
peserta didik, kemudian menerapkan hasil analisis tersebut dalam merencanakan
dan menyajikan penjelasan. Agar penjelasan yang direncanakan sesuai dengan
karakteristik peserta didik, ada tiga pertanyaan berikut yang perlu dijadikan
pegangan dalam merencanakan penjelasan, sebagai berikut:
ü Apakah
penjelasan yang diberikan sesuai dengan pertanyaan yang diajukan peserta didik
atau masalah yang dialami peserta didik?
ü Apakah
penjelasan itu memadai, artinya sesuai dengan kemampuan peserta didik sehingga
peserta didik mudah menyerapnya, berdasarkan pengetahuan yang sudah
dimilikinya?
ü Apakah
penjelasan itu sesuai dengan khazanah pengetahuan yang dimiliki peserta didik
pada waktu itu, termasuk di dalamnya khazanah bahasa sebagai alat komunikasi
yang dikuasai peserta didik?
2) Keterampilan
menyajikan penjelasan
Keterampilan menyajikan
penjelasan memegang peranan penting dalam pelaksanaan rencana penjelasan yang
sudah baik. Keterampilan menyajikan penjelasan terdiri dari komponen-komponen
sebagai brikut:
ü Kejelasan
Kejelasan dari suatu
penjelasan tergantung dari berbagai faktor seperti: kelancaran dan kejelasan
ucapan dalam berbicara, susunan kalimat yang kurang baik dan benar, penggunaan
istilah-istilah disesuaikan dengan bahasa yang mampu dimengerti oleh peserta
didik. Kelancaran dan kejelasan ucapan dalam berbicara sangat menentukan
kualitas dari suatu penjelasan.
ü Penggunaan
contoh dan ilustrasi
Suatu penjelasan akan
menjadi lebih menarik dan mudah dipahami apabila disertai dengan contoh dan
ilustrasi yang tepat. Konsep yang sulit dan kompleks dapat dipermudah dengan
pemberian contoh dan ilustrasi yang diambil dari kehidupan nyata dari peserta
didik. Pola pemberian contoh dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu pola
induktif (contoh-contoh diberikan terlebih dahulu, kemudian berdasarkan
contoh-contoh tersebut digeneralisasi disusun) dan pola deduktif (genaralisasi
diberikan terlebih dahulu, kemudian baru diikuti oleh contoh-contoh).
ü Pemberian
tekanan
Dalam pemberian
penjelasan, sering terjadi seorang pengajar berbicara panjang lebar dan sangat
tipis kaitannya dengan masalah pokok yang dijelaskan. Akibatnya, peserta didik
tidak dapat menangkap inti dari permasalahan yang dijelaskan. Untuk menghindari
hal tersebut, hendaknya seorang pengajar member tekanan pada “inti masalah”
yang dijelaskan, serta membatasi diri dalam menyampaikan cerita-cerita
sampingan. Ada dua subketerampilan yang harus dikuasai oleh seorang pelajar
dalam memberikan tekanan, yaitu variasi gaya mengajar dan membuat struktur
sajian. Variasi gaya mengajar member peluang bagi seorang pengajar untuk
mengubah suara ketika mengucapkan butir-butir penting disertai mimik dan gerak
yang sesuai. Sedangkan struktur sajian yang dibuat seorang pengajar akan
membantu peserta didik memahami arah penjelasan yang diberikan.
ü Balikan
Tujuan utama seorang
pengajar dalam pemberian penjelasan adalah pemahaman peserta didik terkait
dengan penjelasan yang telah diberikan. Meluangkan waktu untuk memeriksa
pemahaman peserta didik dengan mengajukan pertanyaan atau melihat ekspresi wajah
peserta didik.
· Prinsip
penggunaan
Dalam memberikan penjelasan, seorang pengajar
memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
ü Memperhatikan
kaitan antara yang menjelaskan, yang mendengarkan, dan bahan yang dijelaskan,
ü Penjelasan
dapat diberikan pada awal, tengah dan akhir pelajaran, tergantung dari
munculnya kebutuhan akan penjelasan,
ü Penjelasan
yang diberikan harus bermakna dan sesuai dengan tujuan pelajaran, dan
ü Penjelasan
dapat disajikan sesuai dengan recana seorang pengajar atau bila kebutuhan akan
suatu penjelasan muncul dari peserta didik.
5.
Membuka
dan menutup pelajaran
Keterampilan
membuka pelajaran adalah keterampilan yang berkaitan dengan usaha seorang
pengajar dengan melalui kegiatan pembelajaran, sedangkan keterampilan menutup
pelajaran adalah keterampilan yang berkaitan dengan usaha seorang tenaga
pengajar dalam mengakhiri pelajaran. Kegiatan membuka dan menutup pelajaran
terjadi beberapa kali selama kegiatan pembelajaran berlangsung, yaitu pada awal
dan akhir setiap penggal kegiatan. Kegiatan membuka pelajaran merupakan bagian
kegiatan menyiapkan peserta didik untuk memasuki inti kegiatan, sedangkan
kegiatan penutup pelajaran adalah kegiatan untuk memantapkan atau
menindaklanjuti topik yang telah dibahas. Tujuan yang ingin dicapai dengan
menerapkan keterampilan membuka pelajaran adalah:
a. Menyiapkan
mental peserta didik untuk memasuki kegiatan init pelajaran,
b. Membangkitkan
motivasi dan perhatian peserta didik dalam mengikuti pelajaran,
c. Memberikan
gambaran yang jelas tentang batas-batas tugas yang harus dikerjakan peserta
didik,
d. Menyadarkan
peserta didik akan hubungan antara pengalaman atau bahan yang sudah dimiliki
atau diketahui dengan yang akan dipelajari, dan
e. Memberikan
gambaran tentang pendekatan atau kegiatan yang akan diterapkan atau
dilaksanakan dalam kegiatan belajar.
Tujuan yang ingin dicapai dengan
menerapkan keterampilan menutup pelajaran adalah:
a. Memantapkan
pemahaman peserta didik terhadap kegiatan belajar yang telah berlangsung,
b. Mengetahui
keberhasilan peserta didik dan pengajar dalam kegiatan pembelajaran yang telah
dijalani, dan
c. Memberikan
tindak lanjut untuk mengembangkan kemampuan yang baru saja dikuasai.
· Komponen-komponen
keterampilan membuka dan menutup pelajaran
1) Membuka
pelajaran
Kegiatan membuka pelajaran dapat
dilakukan pada setiap awal penggalan kegiatan. Komponen keterampilan yang perlu
dikuasai seorang pengajar sebagai berikut:
a. Menarik
perhatian peserta didik
Menarik perhatian siswa merupakan
langkah awal dalam membuka pelajaran. Dalam menarik perhatian dapat dilakukan
dengan berbagai cara, seperti:
ü Memvariasikan
gaya mengajar seorang pengajar,
ü Menggunakan
alat-alat bantu mengajar yang dapat menarik perhatian peserta didik, dan
ü Penggunaan
pola interaksi yang bervariasi.
b. Menimbulkan
motivasi
Sebagai seorang pengajar hendaknya
berusaha membangkitkan motivasi peserta didik pada setiap awal pelajaran atau
awal penggal kegiatan. Cara menimbulkan motivasi ada bermacam-macam, sebagai
berikut:
ü Sikap
hangat dan antusias,
ü Menimbulkan
rasa ingin tahu,
ü Mengemukakan
ide yang bertentangan, dan
ü Memperhatikan
minat siswa.
c. Memberi
acuan
Memberikan acuan dalam usaha membuka
pelajaran bertujuan untuk memberikan gambaran singkat kepada peserta didik
tentang berbagai topic atau kegiatan yang akan dipelajari peserta didik dalam
pelajaran tersebut. Acuan dapat diberikan dengan berbagai cara, seperti
berikut:
ü Mengemukakan
tujuan dan batas-batas tugas,
ü Menyarankan
langkah-langkah yang akan dilakukan,
ü Mengingatkan
masalah pokok yang akan dibahas, dan
ü Mengajukan
pertanyaan-pertanyaan.
d. Membuat
kaitan
Sebuah pelajaran akan bermakna apabila
dikaitakan dengan pengetahuan yang telah dimiliki oleh peserta didik. Meninjau
kembali pemahaman peserta didik tentang aspek-aspek yang telah diketahui dari
materi baru yang akan dijelaskan, member kaitan materi baru dengan materi yang
sudah diketahui peserta didik.
2) Menutup
pelajaran
Kegiatan menutup pelajaran dilakukan
pada setiap akhir penggal kegiatan. Agar kegiatan menutup pelajaran dapat
berlangsung secara efektif, seorang pengajar diharapkan menguasai cara menutup
pelajaran sebagai berikut:
a. Meninjau
kembali (mereview)
Pada setiap akhir penggal kegiatan seorang
pengajar diharapkan menguasai cara menutup pelajaran sebagai berikut:
ü Merangkum
inti pelajaran, dan
ü Membuat
ringkasan.
b. Menilai
(mengevaluasi)
Penggalan kegiatan atau akhir satu
pelajaran dapat ditutup dengan menilai penguasaan peserta didik tentang
pelajaran yang telah dibahas. Penilaian dapat dilakukan dengan berbagai cara
sebagai berikut:
ü Tanya
jawab secara lisan,
ü Mendemonstrasikan
keterampilan,
ü Mengaplikasikan
ide baru,
ü Menyatakan
pendapat tentang masalah yang dibahas, dan
ü Memberikan
soal-soal tertulis yang dikerjakan oleh peserta didik secara tertulis.
c. Memberi
tindak lanjut
Peserta didik dapat memantapkan atau
mengembangkan kemampuan yang baru dipelajari, seorang pengajar memberikan
tindak lanjut yang dapat berupa:
ü Tugas-tugas
yang dapat dikerjakan secara individu, dan
ü Tugas
kelompok untuk merancang sesuatu atau memecahkan masalah berdasarkan konsep
yang baru dipelajari.
· Prinsip-prinsip
penggunaan
Penerapan keterampilan membuka dan
menutup pelajaran harus mengikuti prinsip tertentu. Tanpa memperhatikan prinsip
tersebut, kegiatan membuka dan menutup pelajaran tidak akan berlangsung secara
efektif. Prinsip tersebut dibagi menjadi dua yaitu sebagai berikut:
1) Bermakna
Kegiatan yang dilakukan dalam membuka
dan menutup pelajaran haruslah bermakna, artinya relevan dengan materi yang
akan dibahas dan sesuai dengan karakteristik peserta didik.
2) Berurutan
dan berkesinambungan
Membuka dan menutup pelajaran merupakan
bagian yang utuh dari kegiatan pembelajaran dan bukan merupakan kegiatan yang
berdiri sendiri. Oleh karena itu, seorang pengajar hendaknya selalu menjaga
agar prinsip berurutan dan berkesinambungan ini terwujud di dalam kelas.
6.
Membimbing
diskusi kelompok kecil
Keterampilan membimbing
diskusi kelompok kecil merupakan keterampilan dasar mengajar yang dipelajari
untuk lebih meningkatkan keterlibatkan peserta didik dalam pembelajaran.
Berikut merupakan syarat-syarat diskusi kelompok kecil sebagai berikut:
a. Melibatkan
kelompok yang beranggotakan berkisar 3-9 orang,
b. Berlangsung
dalam situasi tatap muka yang informal,
c. Mempunyai
tujuan yang mengikat anggota kelompok sehingga terjadi kerja sama untuk
mencapainya, dan
d. Berlangsung
menurut proses yang teratur dan sistematis menuju kepada tercapainya tujuan
kelompok.
· Komponen
keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil
Seorang pengajar dapat membimbing
diskusi kelompok secara efektif, ada enam komponen komponen keterampilan yang
perlu dikuasai guru. Keenam komponen tersebut sebagai berikut:
1) Memusatkan
perhatian,
2) Memperjelas
masalah dan uraian pendapat,
3) Menganalisis
pendangan,
4) Meningkatkan
uraian,
5) Menyebarkan
kesempatan berpartisipasi, dan
6) Menutup
diskusi.
· Prinsip
penggunaan
Agar
keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil dapat diterapkan secara efektif, harus memperhatikan prinsip
penggunaan diskusi. Prinsip-prinsip penggunaan tersebut sebagai berikut:
1) Diskusi
dapat dilaksanakan dalam semua pengajaran bidang studi dengan mampu
mengungkapkan pikiran dan perasanan secara lisan,
2) Topik
atau masalah yang didiskusikan haruslah topik atau masalah yang memerlukan
informasi atau pendapat dari banyak orang untuk membahasnya,
3) Diskusi
kelompok di sekolah dasar masih memerlukan bantuan seorang pengajar untuk
membimbingnya,
4) Diskusi
harus berlangsung dalam suasana terbuka yang penuh persahabatan,
5) Sebelum
diskusi, seorang pengajar hendaknya membuat perencanaan dan melakukan
persiapan,
6) Diskusi
mempunyai kekuatan atau keuntungan yang dapat dimanfaatkan secara maksimal,
7) Diskusi
kelompok mempunyai kelemahan-kelemahan yang dapat mengagalkan atau tidak
tercapainya tujuan diskusi, dan
8) Seorang
pengajar hendaknya menghindari kesalahan topik yang tidak sesuai, membiarkan
penyimpangan, tidak memperjelas uraian, dan lain sebagainya.
7.
Mengelola
kelas
Uzer Usman dalam
Suryani (2012: 187) bahwa “pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk
menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya
bila terjadi gangguan dalam proses belajar-mengajar”. Sedangkan menurut Wina
Sanjaya dalam Suryani (2012: 187) bahwa “pengelolaan kelas merupakan
keterampilan guru menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan
mengembalikannya manakala terjadi hal-hal yang dapat mengganggu suasana
pembelajaran”. Menurut Uzer Usman dalam dalam Suryani (2012: 188) pengelolaan
kelas mempunyai dua tujuan yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum
pengelolaan kelas adalah menyediakan dan menggunakan fasilitas belajar untuk
bermacam-macam kegiatan belajar-mengajar agar mencapai hasil yang baik. Sedangkan
tujuan khusus adalah mengembangkan kemampuan peserta didik dalam menggunakan
alat-alat belajar, sehingga membantu peserta didik untuk memperoleh hasil yang
diharapkan.
·
Komponen-komponen keterampilan
1)
Keterampilan yang berhubungan dengan
penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal, dan
2)
Keterampilan yang berhubung dengan
pengembangan kondisi belajar yang optimal
·
Prinsip-prinsip pengelolaan kelas
Terkait dengan
pengelolaan kelas banyak faktor yang mempengaruhi baik faktor intern maupun
faktor ekstern. Bagi seorang pengajar penting untuk mengetahui dan menguasai
prinsip-prinsip pengelolaan kelas, sebagai berikut:
1) Kehangatan
dan keantusiasan seorang pengajar sangat berperan dalam menciptakan suasana
kelas yang menyenangkan,
2) Kata-kata
dan tindakan seorang pengajar yang dapat menggugah peserta didik untuk belajar
dan berperilaku baik akan mengurangi kemungkinan munculnya perilaku yang
menyimpang,
3) Penggunaan
variasi dalam mengajar dapat mengurangi terjadinya gangguan,
4) Keluwesan
seorang pengajar dalam kegiatan pembelajaran dapat mencegah munculnya gangguan,
5) Seorang
pengajar harus selalu menekankan hal-hal positif dan menghindari pemusatan
perhatian pada hal-hal yang negatif, dan
6) Seorang
pengajar hendaknya mampu menjadi contoh dalam menanamkan disiplin diri sendiri.
8.
Mengajar
kelompok kecil dan perorangan
Keterampilan mengajar
kelompok kecil dan perorangan merupakan keterampilan dasar mengajar yang paling
kompleks dan menuntut penguasaan keterampilan dasar mengajar sebelumnya. Pengajaran
kelompok kecil dan perorangan ditandai oleh ciri-ciri sebagai berikut:
a. Terjadi
hubungan (interaksi) yang akrab dan sehat antara pengajar dan peserta didik,
b. Peserta
didik sesuai dengan kecepatan, cara, kemampuan dan minatnya,
c. Siswa
mendapat bantuan dari seorang guru sesuai dengan kebutuhannya, dan
d. Peserta
didik dilibatkan dalam penentuan cara-cara belajar yang akan ditempuh.
Dilihat
dari sisi seorang pengajar, pengajaran kelompok kecil dan perorangan menuntut
seorang pengajaran berepran sebagai:
1) Organisator
kegiatan pembelajaran,
2) Sumber
informasi bagi peserta didik,
3) Pendorong
peserta didik untuk belajar,
4) Penyedia
materi dan kesempatan belajar bagi peserta didik,
5) Orang
yang mendiagnosis kesulitan peserta didik dan member bantuan yang sesuai dengan
kebutuhannya, dan
6) Peserta
kegiatan yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan peserta lainnya.
·
Komponen
keterampilan
1)
Keterampilan mengadakan pendekatan
secara pribadi
2)
Keterampilan mengorganisasikan kegiatan
pembelajaran
3)
Keterampilan membimbing dan memudahkan belajar
4)
Keterampilan merencanakan dan melakukan
kegiatan pembelajaran
·
Hal-hal yang perlu diperhatikan
1)
Seorang pengajar yang sudah biasa dengan
pengajaran klasikal,
2)
Topik-topik yang bersifat umum,
3)
Sebelum pengajaran kelompok kecil atau
perorangan sebelum dimulai, seorang pengajar harus melakukan peorganisasian,
4)
Kegiatan kelompok kecil atau perorangan
yang efektif selalu diakhiri dengan kulminasi yang berupa rangkuman,
5)
Agar pengajaran perorangan dapat
berlangsung secara efektif, dan
6)
Kegiatan perorangan dapat bervariasi.
BAB III
PENUTUP DAN SARAN
1. Penutup
Mengajar
adalah satu pekerjaan professional, yang menuntut kemampuan yang kompleks untuk
dapat melakukannya. Pekerjaan seorang pengajar menuntut keahlian tersendiri,
sehingga tidak setiap orang mampu melakukan pekerjaan tersebut. Pemahaman dan
kemampuan menerapkan keterampilan dasar mengajar secara utuh dan terintegrasi,
diharapkan seorang pengajar mampu meningkatkan kualitas proses pembelajaran.
Dengan pengorganisasian tersebut, diharapkan seorang
pengajar dapat menguasai keterampilan dasar mengajar. Menurut
hasil penelitian (Turney, 1979) terdapat 8 keterampilan dasar mengajar yang
dianggap berperan penting dalam menentukan keberhasilan pembelajaran.
Keterampilan yang dimaksud adalah keterampilan:
1.
Bertanya,
2.
Memberikan penguatan,
3.
Mengadakan variasi,
4.
Menjelaskan,
5.
Membuka dan menutup pelajaran,
6.
Membimbing diskusi kelompok kecil,
7.
Mengelola kelas, dan
8.
Mengajar kelompok kecil dan perorangan.
2. Saran
Bagi seorang pengajar maupun calon
pengajar hendaknya mempelajari keterampilan dasar mengajar terlebih dahulu. Banyak
hal yang dikemukakan keterampilan dasar mengajar dalam kaitannya mengenai
komponen-komponen, prinsip penggunaan dan hal-hal yang perlu diperhatikan bagi
pengajar.
DAFTAR RUJUKAN
Suryani, Nunung &
Agung Leo. Strategi Belajar Mengajar. Yogyakarta: 2012
Wardani & Julaeha
Siti. Keterampilan Dasar Mengajar. Jakarta: 2005
Mulyada. Menjadi Guru
Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif Dan Menyenangkan. Bandung: 2005
Ginnis, Paul. Trik Dan
Taktik Mengajar Strategi Meningkatkan Pencapaian Pengajaran Di Kelas. Jakarta:
2008
No comments:
Post a Comment