Sunday, September 20, 2015

Kemampuan Dasar Mengajar

KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR YANG HARUS DIMILIKI OLEH SEORANG PENGAJAR

MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Keterampilan Dasar Mengajar Geografi
Yang di bina oleh Drs.Hadi Soekamto, S.H. M.Pd. M.Si.

                                                         Oleh
                                                Desiana Merawati
                                                  120721435503
                                                     Offering: L

UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN GEOGRAFI
Januari 2015
DAFTAR ISI


Daftar Isi         …………………………………………………………………  2
A. Pendahuluan          …………………………………………………….......  3
1.      Latar Belakang   ……………………………………………............. 3
2.      Rumusan Masalah  …………………………………………………….3
B. Pembahasan            ………………………………………………………… 3
1. Bertanya ………………………………………………………………. 4
2. Memberi penguatan ………………………………………………….. 6
3. Mengadakan variasi …………………………………………………. 10
4. Menjelaskan …………………………………………………………. 16
5. Membuka dan menutup pelajaran ………………………………….. 19
6. Membimbing diskusi kelompok kecil ……………………………… 23
7. Mengelola kelas ……………………………………………………. 25
8. Mengajar kelompok kecil dan perorangan …………………………… 26
BAB III Penutup dan saran ……………………………………………………28
1.      Penutup ……………………………………………………………….. 28
2.      Saran ………………………………………………………………….. 28
Daftar Rujukan       …………………………………………………………… 29




BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar belakang
      Perkembangan pendidikan di Indonesia dari tahun ke tahun dapat dikatakan mengalami peningkatan. Peningkatan tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Misalnya kurikulum pendidikan yang ideal, sarana prasarana yang memadai di setiap sekolah dan yang tidak kalah penting dari semua faktor tersebut ialah faktor pengajar atau kinerja guru. Kinerja guru dalam proses pembelajaran dapat mempengaruhi perkembangan pendidikan. Hal ini karena tidak semua guru dapat mengajar peserta didiknya dengan baik atau profesional.
Mengajar adalah satu pekerjaan professional, yang menuntut kemampuan yang kompleks untuk dapat melakukannya. Pekerjaan seorang pengajar menuntut keahlian tersendiri, sehingga tidak setiap orang mampu melakukan pekerjaan tersebut. Perangkat kemampuan seorang pengajar  sudah ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, seorang pengajar dituntut untuk menguasai kompetensi pedagogis, professional, kepribadian, dan sosial. Kompetensi pedagogis merupakan salah satu kemampuan melaksanakan pembelajaran yang mendidik.  Agar dapat melaksanakan pembelajaran yang mendidik, dapat melaksanakan yang mendidik dengan baik, menguasai berbagai kemampuan.
2.      Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari Keterampilan Dasar Mengajar?
2.     Apa sajakah keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang guru ketika  mengajar?



BAB II
LANDASAN TEORI

Menurut Peraturan Pemerintah nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, seorang guru dituntut untuk menguasai kompetensi pedagogis, professional, kepribadian, dan sosial. Kompetensi pedagogis merupakan salah satu kemampuan melaksanakan pembelajaran yang mendidik.  Agar dapat melaksanakan pembelajaran yang mendidik, dapat melaksanakan yang mendidik dengan baik, menguasai berbagai kemampuan.
      Menurut hasil penelitian (Turney, 1979) terdapat 8 keterampilan dasar mengajar yang dianggap berperan penting dalam menentukan keberhasilan pembelajaran. Keterampilan yang dimaksud adalah keterampilan:
1.      Bertanya
Bertanya merupakan keterampilan yang bersifat mendasar dan paling sederhana yang dipersyaratkan bagi penguasaan keterampilan berikutnya. Berkenaan dengan penguasaan. Dalam proses belajar mengajar , bertanya memainkan peranan penting sebab pertanyaan yang tersusun dengan baik dan teknik pelontaran yang tepat akan memberikan dampak positif terhadap peserta didik , yaitu :
a. Meningkatkan partisipasi siswa dalam dalam kegiatan belajar mengajar,
b. Membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap suatu masalah yang sedang dihadapi atau dibicarakan,
c. Mengembangkan pola dan cara belajar aktif dari peserta didik untuk menegmbangkan rasa keingin tahuan dengan carabertanya,
d. Menuntun proses berfikir peserta didik sebab pertanyaan yang baik akan membantu peserta didik agar menentukan jawaban yang baik.
e. Memusatkan perhatian peserta didik terhadap masalah yang sedang dibahas.
Keterampilan dan kelancaran bertanya dari calon pengajar maupun dari pengajar itu perlu dilatih dan ditingkatkan, baik isi pertanyaannya maupun teknik bertanya .
a. Dasar- dasar pertanyaan yang baik
• Berikan informasi yang cukup untuk menjawab pertanyaan
• Difokuskan pada suatu masalah atau tugas tertentu
• Berikan waktu yang cukup kepada anak untuk berfikir sebelum menjawab  pertanyaan.
• Bagikanlah semua pertanyaan kepada seluruh murid secara merata.
• Berikan respon yang ramah dan menyenangkan sehingga timbul keberanian siwa untuk menjawab atau bertanya.
• Tuntunlah jawaban siswa sehingga mereka dapat menemukan sendiri jawaban yang benar.
b. Jenis –jenis pertanyaan yang baik
• Jenis pertanyaan yang menurut maksudnya
1) Pertanyaan permintaan ( compliance question )
2) Pertanyaan retoris ( rhetorical question)
3) Pertanyaan mengarahkan atau menuntun ( prompting question)
4) Pertanyaan menggali ( probing question)
• Jenis pertanyaan menurut taksonomi bloom
1) Pertanyaan pengetahuan
2) Pertanyaan pemahaman
3) Pertanyaan penerapan
4) Pertanyaan sintetis
5) Pertanyaan evaluasi
c.    Hal – hal yang perlu diperhatikan
1) Kehangatan atau keantusiasan.
Sikap dan cara pengajar termasuk suara, ekspresi wajah, gerakan, dan posisi badan menampakkan ada tidaknya kehangatan dan keantusiasannya.
2) Kebiasaan yang perlu dihindari .
Guru harus menghindari kebiasaan seperti :
a) Menjawab pertanyaan sendiri.
b) Mengulang jawaban siswa
c) Mengulang pertanyaan sendiri
d) Mengajukan pertanyaan dengan jawaban yang serentak
e) Menentukan siswa yang harus menjawab sebelum bertanya
f) Mengajukan pertanyaan ganda.
Ada 4 alasan mengapa seseorang guru perlu menguasai keterampilan bertanya :
1. Pada umumnya guru masih sering mendominasi kelas dengan metode ceramah.
2. Kebiasaan yang tumbuh dalam masyarakat kita tidak membiasakan anak untuk bertanya , sehingga keinginan anak untuk bertanya selalu terpendam.
3. Penerapan pendekatan CBSA adalah kegiatan pembelajaran menuntut keterlibatan siswa secara mental intelektual.
4. Adanya anggapan bahwa pernyataan yang diajukan guru berfungsi untuk menguji pemahaman siswa.
2.      Memberi penguatan
Penguatan adalah respons yang diberikan terhadap perilaku atau perbuatan yang dianggap baik, yang dapat membuat terulangnya atau meningkatnya perilaku atau perbuatan yang dianggap baik tersebut.  Penguatan dalam kegiatan pembelajaran mempunyai peran penting untuk meningkatkan keefektifan kegiatan pembelajaran. Pujian atau respons positif guru terhadap perilaku perbuatan peserta didik yang positif akan membuat peserta didik merasa senang karena dianggap mempunyai kemampuan. Dalam kaitan dengan kegiatan pembelajaran, tujuan member penguatan dilakukan untuk:
a.       Meningkatkan perhatian siswa
b.      Membangkitkan dan memelihara motivasi siswa
c.       Memudahkan siswa belajar
d.      Mengontrol dan memodifikasi tingkah laku siswa serta mendorong munculnya perilaku yang positif
e.       Menumbuhkan rasa percaya diri pada diri siswa
f.       Memelihara ikhlas kelas yang kondusif

·      Komponen keterampilan memberi penguatan
Penguatan pada dasarnya dapat diberikan dalam dua jenis yaitu penguatan verbal dan penguatan nonverbal. Komponen-komponen keterampilan memberikan penguatan yang harus dikuasai oleh guru berkaitan dengan keterampilan menggunakan kedua jenis penguatan tersebut. Secara terperinci, komponen-komponen tersebut adalah sebagai berikut:
1)   Penguatan verbal
Penguatan verbal merupakan penguatan yang paling mudah digunakan dalam kegiatan pembelajaran yang dapat diberikan dalam bentuk komentar, pujian, dukungan atau dorongan yang diharapkan dapat meningkatkan tingkah laku dan penampilan peserta didik. Komentar, pujian, dan sebagainya tersebut dapat diberikan dalam bentuk kata-kata atau kalimat seperti berikut:
a)      Kata-kata: bagus, baik, benar, ya, betul atau tepat sekali.
b)      Kalimat:
ü  Pekerjaanmu rapi benar.
ü  Kalimat-kalimat anda sangat bagus susunannya.
ü  Cara anda berfikir cukup sistematis.
ü  Semakin lama pekerjaan anda semakin baik.
2)   Penguatan nonverbal
Penguatan nonverbal dapat ditujukan dengan berbagai cara sebagai berikut:
a.    Mimik dan gerakan badan
Mimik dan gerakan badan seperti senyuman, anggukan, tepuk tangan atau acungan ibu jari dapat mengkomunikasikan kepuasan guru terhadap respon peserta didik yang tentu saja merupakan penguatan yang sangat berarti bagi peserta didik. Mimic dan gerakan badan dapat dipakai bersama-sama dengan penguatan verbal.
b.   Gerakan mendekati
Gerakan mendekati dapat ditunjukkan pengajar dengan cara melangkah mendekati peserta didik, berdiri disamping peserta didik atau kelompok peserta didik, bahkan dalam situasi tertentu peserta didik tertentu duduk bersama peserta didik atau kelompok peserta didik. Tujuan gerak mendekati sebagai pemberian perhatian, menunjukkan rasa senang akan pekerjaan peserta didik, atau bahkan juga memberikan rasa aman kepada peserta didik. Bentuk penguatan ini biasanya dipakai bersama-sama dengan bentuk penguatan verbal, artinya ketika pengajar mendekati peserta didik, pengajar mengucapkan kata-kata tertentu sebagai penguatan. Kombinasi ini biasanya memperkuat efek penguatan, namun harus dibatasi pemakaiannya sehingga efektivitasnya tidak menurun.
c.       Sentuhan
Sentuhan yang dimaksud seperti menepuk-nepuk bahu atau pundak peserta didik, menjabat tangan peserta didik atau mengangkat tangan peserta didik yang menang jika dilakukan dengan tepat, dapat merupakan penguatan yang efektif bagi pesrta didik. Namun, jenis penguatan ini harus dipergunakan dengan penuh kehati-hatian dengan memperhatikan umur, jenis kelamin, serta latar belakang budaya dari peserta didik.  
d.      Kegiatan yang menyenangkan
Pada dasarnya, peserta didik akan menjadi senang apabila diberikan kesempatan untuk mengerjakan sesuatu yang menjadi kegemarannya atau sesuatu yang memungkinkan peserta didik berprestasi. Oleh sebab itu, kegiatan yang disenangi peserta didik dapat digunakan sebagai penguatan. Akan menjadai lebih efeketif lagi apabila kegiatan yang dijadikan penguatan tersebut dikaitkan dengan penampila yang diberikan penguatan.  
e.       Pemberian simbol atau benda
Penguatan dapat pula diberikan dalam bentuk simbol atau benda tertentu. Symbol dapat berupa tanda cek (√), komentar tertulis pada peserta didik, berbagai tanda dengan warna tertentu, misalnya hijau, ungu, kuning atau merah. Sementara untuk benda yang digunakan sebagai penguatan adalah benda-benda kecil yang harganya tidak terlalu mahal, tetapi berarti bagi peserta didik. Misalnya kartu bergambar, pensil atau buku, pin, dll.
Pemberian penguatan dengan menggunakan symbol atau benda hendaknya tidak terlalu sering dilakukan agar “makna”nya tidak hilang atau agar peserta didik tidak memandangnya sebagai satu target dari penampilannya. Pemberian komentar tertulis pada pekerjaan peserta didik, lebih-lebih yang memungkinkan peserta didik memperbaiki atau meningkatkan penampilannya sebaiknya diberikan secara teratur.
3)      Penguatan tak penuh
Selain dari kedua jenis penguatan tersebut, ada satu cara pemberian penguatan yang disebut penguatan tak penuh. Sesuai dengan namanya, penguatan tak penuh diberikan untuk jawaban atau respon peserta didik yang hanya sebagian benar, sedangkan bagian lainnya masih perlu diperbaiki. Oleh karena itu, pengajar perlu berkata baik dan mendorong peserta didik untuk memperbaiki kesalahan tersebut. Misalnya “Bagaimana pertama dari jawaban anda sudah benar, tetapi alasan yang anda berikan belum mantap”. kemudian pengajar mengajak peserta didik secara bersama-sama memperbaiki jawaban tersebut. Sehingga dengan cara seperti itu, peserta didik akan memahami kualitas jawabannya sebagai penguat yang diberikan pengajar benar-benar bermakna.
·         Prinsip penguatan
Agar penguatan yang diberikan pengajar dapat berfungsi secara efektif, pengajar hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip pemberian penguatan sebagai berikut:
1)      Kehangatan dan keantusiasan
Penguatan yang diberikan pengajar harus disertai dengan kehangatan dan keantusiasan. Kehangatan dan keantusiasan dapat ditunjukkan dengan berbagai cara, misalnya dengan muka atau wajah beseri disertai senyuman, suara yang riang penuh perhatian. Sebaliknya penguatan yang diberikan dengan suara lesu, acuh tak acuh, wajah yang murung, tidak akan ada pengaruh positif bagi peserta didik. Peserta didik akan merasa ucapan pengajar, hanya merupakan kata-kata klise yang tidak memiliki makna.
2)      Kebermaknaaan
Penguatan yang diberikan pengajar harus bermakna bagi peserta didik. Artinya peserta didik memang merasa terdorong untuk meningkatkan penampilannya. Dengan kata-kata atau kalimat yang akan dapat mendorong peserta didik untuk lebih giat dalam belajar.
3)      Menghindari penggunaan respon negatif
Respons yang negatif dari seorang pengajar merupakan senjata ampuh yang dapat menghancurkan suasana kelas yang kondusif dan kepribadian peserta didik sendiri. Oleh sebab itu pengajar hendaknya menghindari dari segala jenis respons negatif tersebut. Apabila peserta didik memebrikan jawaban atau menunjukkan penampilan yang tidak memuaskan, pengajar hendaknya menahan diri dari keinginan mencela atau mengejek jawaban atau penampila peserta didik.
Disamping ketiga prinsip pemberi penguatan diatas, pengajar hendaknya memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1)      Sasaran penguatan yang diberikan oleh pengajar harus jelas, misalnya memberikan penguatan kepada peserta didik “Tita, karanganmu hari ini bagus sekali”. Dengan demikian, setiap penguatan yang diberikan oleh pengajar harus jelas sasarannya, apakah ditujukan kepada pribadi tertentu atau kepada kelompok kecil peserta didik atau kepada seluruh peserta didik.
2)      Penguatan harus diberikan dengan segera setelah peserta didik menunjukkan respons yang diharapkan. Penguatan dalam hal tersebut merupakan pengaruh positif yang diharapkan tidak menurun atau bahkan hilang. Dengan kata lain, tidak ada waktu tunggu antara respons yang ditunjukkan dengan penguatan yang diberikan.
3)      Variasi dalam penggunaan sebagai pemberian penguatan akan kaya dan berdampak cukup tinggi pada peserta didik. Penguatan verbal secara terus menerus dengan kata-kata yang sama, diiringi dengan mimik dan gerakan badan sehingga memberikan kesan yang tidak akan membosankan peserta didik.

3.      Mengadakan variasi
Variasi adalah keanekaan yang membuat sesuatu tidak monoton. Variasi dapat berwujud perubahan-perubahan atau perbedaan-perbedaan yang sengaja diciptakan atau dibuat untuk memberikan kesan yang unik. Penggunaan variasi dalam kegiatan pembelajaran di kelas sangat perlu untuk dilakukan agar peserta didik tidak merasa bosan. Perlunya melakukan permiainan seperti kuis dalam kegiatan pembelajaran akan menunjang keefektifan prose pembelajaran di kelas. Dalam hal ini, pengajar perlu menguasai keterampilan mengadakan variasi.
Variasi di dalam kegiatan pembelajaran bertujuan antara lain untuk hal-hal sebagai berikut:
a.    Menghilangkan kenosanan peserta didik dalam belajar,
b.   Meningkatkan motivasi peserta didik dalam mempelajari sesuatu,
c.    Mengembangkan keinginan peserta didik untuk mengetahui dan menyelidiki hal-hal baru,
d.   Melayani gaya belajar peserta didik yang beraneka ragam, dan
e.    Meningkatkan kadar keaktifan atau keterlibatan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran.
Dengan tujuan seperti itu, dapat dipahami betapa pentingnya keterampilan mengadakan variasi bagi sengorang pengajar. Dengan diadakan variasi oleh sengorang pengajar, bukan hanya peserta didik saja yang memperoleh kepuasan belajar, tetapi pengajar pun akan memperoleh kepuasan dalam mengajar. Oleh karena itu, pengajar harus mampu mengadakan variasi dalam kegiatan pembelajaran yang dikelolanya.
·      Komponen-komponen keterampilan mengadakan variasi
Pada dasarnya, variasi dalam kegiatan pembelajaran mempunyai prinsip penggunaan dan tujuan masing-masing  yang dikelompokkan menjadi tiga, yakni:
1)   Variasi dalam gaya belajar
Banyak cara yang dilakukan seorang pengajar dalam menyampaikan suatu materi dengan gaya mereka masing-masing. Dalam hal tersebut, peserta didik mengetahui karakter seorang pengajar. Sangat banyak variasi gaya mengajar yang dapat dilakukan oleh seorang pengajar. Secara garis besar, hal-hal yang berkaitan dengan gaya mengajar yang dapat divariasikan seorang pengajar berkisar pada butir-butir sebagai berikut:
a.    Variasi suara
Suara seorang pengajar dapat dikatakan sebuah faktor yang sangat penting di dalam kelas. Hal tersebut disebabkan sebagian besar kegiatan di kelas akan bersumber dari hal-hal yang disampaikan oleh seorang pengajar secara lisan. Suara seorang pengajar yang meninggi secara terus-menerus akan membuat pendengar menjadi tercapai, demikian juga suara lemah secara terus-menerus akan membuat pendengar mengantuk atau perhatian terpecah. Oleh karena itu, seorang pengajar dapat memvariasikan suaranya:
ü  Dari besar ke kecil,
ü  Dari tinggi ke rendah,
ü  Dari cepat ke lambat,
ü  Dari nada sedih ke nada gembira, dan
ü  Dengan member tekanan tertentu melalui suara lambat-lambat.
b.   Pemusatan perhatian
Seorang pengajar sering menginginkan agar peserta didik memperhatikan butir-butir penting yang sedang disampaikan. Hal ini dapat dilakukan dengan mengucap kata-kata tertentu yang secara khusus disertai isyarat atau gerakan seperlunya. Misalnya “ini penting diingat”, sambil menulis istilah yang perlu diingat.
c.    Kesenyapan
Terkadang seorang pengajar sedang asyik berbicara suasana kelas agak terganggu. Misalnya ada seorang peserta didik yang mengantuk, berbicara atau bermain dengan peserta didik yang lain. Untuk mengatasi hal ini, seorang pengajar dapat menerapkan kesenyapan, yaitu diam sejenak sambil memandang kepada peserta didik yang sedang sibuk sendiri. Perubahan atau variasi dari keadaan suara kesenyapan yang tiba-tiba akan member pengaruh kepada peserta didik. Mereka secara spontan dengan adanya perubahan atau variasi, dan akan kembali mendengarkan penjelasan dari seorang pengajar.
d.   Mengadakan kontak pandang
Permasalahan yang dihadapi oleh seorang pengajar muda yaitu ketika berdiri di depan kelas sambil menundukkan kepala atau memandang ke satu tempat tertentu. Ketidakmampuan memandang peserta didik merupakan kekurangan bagi seorang pengajar untuk mengadakan variasi. Kontak pandang dengan seluruh peserta didik merupakan senjata ampuh bagi seorang pengajar dalam mengajar.seorang pengajar yang memadang peserta didiknya ketika mendengarkan pembicaraan tersebut akan menunjukkan sikap penuh perhatian terhadap masalah yang dibicarakan.
e.    Gerakan badan dan mimik
Mimik dan gerakan merupakan alat komunikasi yang efektif. Variasi mimic dan gerakan badan yang dilakukan secara tepat dapat mengkomunikasikan pesan secara lebih efektif dibandingkan dengan ucapan bertele-tele. Mimik dan gerakan badan yang dapat divariasikan, antara lain:
ü Ekspresi wajah: tersenyum, mengerutkan kening, mengangkat alis, cemebrut, dan tertawa.
ü Gerakan kepala: menggeleng, mengangguk, tegak atau mengangkat kepala, dan menunduk.
ü Gerakan tangan: mengangkat tangan, mengacungkan ibu jari, mengepalkan tangan untuk menegaskan, dan bertepuk tangan.
ü Gerakan bahu: mengangkat bahu.
ü Gerakan badan secara keseluruhan: berdiri baku, bersikap santai, gerak mendekati atau menjauhi.
f.    Perubahan dalam posisi seorang pengajar
Posisi seorang pengajar di dalam kelas juga berpengaruh kepada kegairahan peserta didik untuk belajar. Sebagai seorang pengajar, tidak hanya berdiam diri berdiri di depan papan tulis atau duduk di tempat. Seorang pengajar dapat memvariasikan posisinya secara wajar, misalnya berdiri di depan kelas, pindah kesamping atau ketengah.
2)      Variasi dalam pola interaksi dan kegiatan
Pola interaksi dan kegiatan pembelajaran dapat bervariasi yang paling didominasi seorang pengajar berpusat pada peserta didik sendiri. Variasi pola interaksi dan kegiatan peserta didik bervariasi dan akan sangat kaya wawasan. Pola interaksi dapat diubah dari interaksi satu arah (pengajar ke peserta didik) ke interaksi dua arah sampai ke semua arah (peserta didik ke peserta didik lain, peserta didik ke pengajar, dan seterusnya). Berikut berbagai contoh variasi pola interaksi dan kegiatan:
a.   Kegiatan klasik
ü Mendengarkan informasi dan tanya-jawab secara klasikal atau diskusi,
ü Demonstrasi oleh pengajar atau peserta didik mengenai satu keterampilan atau percobaan, dan
ü Menyaksikan tanyangan film, video atau permainan peran yang kemudian diikuti oleh diskusi atau tugas-tugas lain.
b.   Kegiatan kelompok kecil
ü Mendiskusikan pemecahan suatu masalah,
ü Menyelesaikan suatu proyek,
ü Melakukan suatu percobaan atau observasi, dan
ü Melakukan latihan suatu keterampilan.
c.    Kegiatan berpasangan
ü Mendiskusikan jawaban pertanyaan yang diajukan secara klasikal, dan
ü Latihan menggunakan alat tertentu.
d.   Kegiatan perorangan
ü Membaca atau menelaah satu materi,
ü Mengerjakan tugas-tugas individu,
ü Melakukan observasi, dan
ü Melukukan percobaan.
3)      Variasi dalam penggunaan alat bantu pembelajaran
Alat dan media pembelajaran merupakan salah satu faktor penting dalam kegiatan pembelajaran. Konsep yang sukar dan yang akan membosankan bagi peserta didik akan menjadi menarik apabila disajikan dengan menggunakan media dan alat yang tepat. Misalnya, terjadinya proses pembentukan awan akan lebih menarik disajikan menggunakan media sparkol.
Alat bantu pelajaran dapat divariasikan sesuai dengan fungsinya, sebagaimana peserta didik akan mudah belajar dengan cara mendengarkan, melihat, meraba, mencium atau diberi kesempatan untuk memanipulasi media atau alat bantu yang digunakan. Sesuai dengan variasi tersebut, maka variasi penggunaan alat bantu pembelajaran dapat dikelompokkan sebagai berikut:
a.    Variasi alat bantu pembelajaran yang dapat dilihat
Penggunaan alat bantu pembelajaran yang dapat dilihat merupakan variasi yang kaya dan dapat meningkatkan minat dan perhatian peserta didik pada kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung. Variasi alat bantu pembelajaran dalam kelompok ini sangat beragam, seperti gambar, grafik, peta, ukiran, slide, semuanya dapat digunakan pengajar sesuai dengan topik yang sedang dibahas, baik dari karakteristik peserta didik, tujuan pembelajaran, ketersediaan alat dan bahan, serta kemampuan seorang pengajar dalam menggunakannya.
b.   Variasi alat bantu pembelajaran yang dapat didengar
Alat bantu yang dapatmedominasi kelas, hendaknya seorang pengajar harus cukup mampu menarik perhatian peserta didik. Seorang pengajar harus mampu memvariasikan suaranya, selain itu dapat menggunakan variasi alat bantu yang dapat didengar seperti pidato atau suara tokoh-tokoh terkemukaka. Variasi dapat pula dibuat dengan meminta siswa membacakan puisi atau wacana tertentu kemudian menceritakan di depan kelas.
c.    Variasi alat bantu pembelajaran yang dapat diraba dan dimanipulasi
Variasi yang terdapat dalam bagian ini antara lain biji-bijian, binatang, alat-alat laboratorium dan lain sebagainya. Penggunaan alat secara tepat akan mampu menumbuhkan dan memelihara minat peserta didik dalam belajar.
·         Prinsip penggunaan
Prinsip penggunaan dapat berfungsi secara efektif apabila seorang pengajar memperhatikan sebagai befrikut:
1)      Variasi yang dibuat harus mengandung maksud tertentu yang disesuaikan dengan karakteristik kemampuan peserta didik, kemampuan pengajar, dan lain sebagainya.
2)      Variasi harus terjadi secara wajar dan tidak berlebihan sehingga tidak mengganggu proses belajar.
3)      Variasi harus berlangsung secara lancar dan berkesinambungan, tidak mengganggu suasana kelas dan tidak mengganggu kegiatan belajar.
4)      Komponen-komponen variasi yang memerlukan pengorganisasian dan perencanaan yang baik perlu dirancang secara cermat dan diccantumkan dalam rencana pembelajaran.
4.      Menjelaskan
Kegiatan menjelaskan bertujuan untuk:
a.    Membantu peserta didik memahami berbagai konsep, hukum, dalil, dan sebagainya secara objektif dan nalar,
b.   Membimbing peserta didik menjawab pertanyaan “mengapa” yang muncul dalam proses pembelajaran,
c.    Meningkatkan keterlibatan peserta didik dalam memecahkan berbagai masalah melalui cara berfikir yang lebih sistematis,
d.   Mendapatkan balikan dari peserta didiktentang tingkat pemahamannya terhadap konsep yang telah dijelaskan, dan
e.    Memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menghayati proses penelaran dalam penyelesaian ketidakpastian.
Untuk penguasaan keterampilan menjelaskan akan memungkinkan seorang pengajar untuk:
a.       Meningkatkan efektivitas pembicaraan di kelas sehingga benar-benar merupakan penjelasan yang bermakna bagi peserta didik,
b.      Memperkirakan tingkat pemahaman peserta didik terhadap penjelasan yang diberikan,
c.       Membantu peserta didik mengenali pengetahuan dari berbagai sumber,
d.      Mengatasi kekurangan berbagai sumber belajar, dan
e.       Menggunakan waktu secara efektif.
·   Komponen-komponen keterampilan menjelaskan
Keberhasilan suatu penjelasan sangat bergantung dari tingkat penguasaan seorang pengajar terhadap kketerampilan merencanakan penjelasan dan keterampilan menyajikan penjelasan tersebut. Oleh karena itu, seorang pengajar dituntut untuk mampu merencanakan dan menyajikan penyelasan. Berikut merupakan penjelasan dari kedua jenis komponen:
1)      Keterampilan merencanakan penjelasan
a.    Merencanakan isi pesan (materi)
Merencanakan isi pesan atau materi pembelajaran merupakan tahap awal dalam suatu proses menjelaskan. Dalam hal ini perlunya perencanaan yang matang terkait materi yang akan dijelaskan merupakan sebuah tahap awal keberhasilan dari kegiatan menjelaskan. Perencanaan ini mencakup tiga hal penting, yaitu:
ü Menganalisis masalah yang akan dijelaskan secara keseluruhan, termasuk unsur-unsur yang terkait dalam masalah tersebut.
ü Menetapkan jenis hubungan antara unsur-unsur yang berkaitan tersebut. Jenis hubungan ini dapat berupa perbedaan, pertentangan, saling menunjang atau hubungan prasyarat.
ü Menelaah hukum, rumus, prinsip atau generalisasi yang mungkin dapat digunakan dalam menjelaskan masalah yang telah ditentukan. Termasuk dalam perencanaan ini memungkinkan penerapan hukum tersebut termasuk kedalam peristiwa atau situasi lain.
b.   Menganalisis karakteristik penerimaan pesan
Perencanaan suatu penjelasan harus cermat dalam mempertimbangkan karakteristik dari peserta didik. Hal utama yang harus diketahui oleh seorang pengajar yaitu pemahaman peserta didik. Mampu tidaknya peserta didik memahami penjelasan dari pengajar sangat bergantung dari kemampuan seorang pengajar menganalisis karakteristik peserta didik, kemudian menerapkan hasil analisis tersebut dalam merencanakan dan menyajikan penjelasan. Agar penjelasan yang direncanakan sesuai dengan karakteristik peserta didik, ada tiga pertanyaan berikut yang perlu dijadikan pegangan dalam merencanakan penjelasan, sebagai berikut:
ü  Apakah penjelasan yang diberikan sesuai dengan pertanyaan yang diajukan peserta didik atau masalah yang dialami peserta didik?
ü  Apakah penjelasan itu memadai, artinya sesuai dengan kemampuan peserta didik sehingga peserta didik mudah menyerapnya, berdasarkan pengetahuan yang sudah dimilikinya?
ü  Apakah penjelasan itu sesuai dengan khazanah pengetahuan yang dimiliki peserta didik pada waktu itu, termasuk di dalamnya khazanah bahasa sebagai alat komunikasi yang dikuasai peserta didik?
2)      Keterampilan menyajikan penjelasan
Keterampilan menyajikan penjelasan memegang peranan penting dalam pelaksanaan rencana penjelasan yang sudah baik. Keterampilan menyajikan penjelasan terdiri dari komponen-komponen sebagai brikut:
ü  Kejelasan
Kejelasan dari suatu penjelasan tergantung dari berbagai faktor seperti: kelancaran dan kejelasan ucapan dalam berbicara, susunan kalimat yang kurang baik dan benar, penggunaan istilah-istilah disesuaikan dengan bahasa yang mampu dimengerti oleh peserta didik. Kelancaran dan kejelasan ucapan dalam berbicara sangat menentukan kualitas dari suatu penjelasan.
ü  Penggunaan contoh dan ilustrasi
Suatu penjelasan akan menjadi lebih menarik dan mudah dipahami apabila disertai dengan contoh dan ilustrasi yang tepat. Konsep yang sulit dan kompleks dapat dipermudah dengan pemberian contoh dan ilustrasi yang diambil dari kehidupan nyata dari peserta didik. Pola pemberian contoh dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu pola induktif (contoh-contoh diberikan terlebih dahulu, kemudian berdasarkan contoh-contoh tersebut digeneralisasi disusun) dan pola deduktif (genaralisasi diberikan terlebih dahulu, kemudian baru diikuti oleh contoh-contoh).
ü  Pemberian tekanan
Dalam pemberian penjelasan, sering terjadi seorang pengajar berbicara panjang lebar dan sangat tipis kaitannya dengan masalah pokok yang dijelaskan. Akibatnya, peserta didik tidak dapat menangkap inti dari permasalahan yang dijelaskan. Untuk menghindari hal tersebut, hendaknya seorang pengajar member tekanan pada “inti masalah” yang dijelaskan, serta membatasi diri dalam menyampaikan cerita-cerita sampingan. Ada dua subketerampilan yang harus dikuasai oleh seorang pelajar dalam memberikan tekanan, yaitu variasi gaya mengajar dan membuat struktur sajian. Variasi gaya mengajar member peluang bagi seorang pengajar untuk mengubah suara ketika mengucapkan butir-butir penting disertai mimik dan gerak yang sesuai. Sedangkan struktur sajian yang dibuat seorang pengajar akan membantu peserta didik memahami arah penjelasan yang diberikan.
ü  Balikan
Tujuan utama seorang pengajar dalam pemberian penjelasan adalah pemahaman peserta didik terkait dengan penjelasan yang telah diberikan. Meluangkan waktu untuk memeriksa pemahaman peserta didik dengan mengajukan pertanyaan atau melihat ekspresi wajah peserta didik.
·   Prinsip penggunaan
Dalam memberikan penjelasan, seorang pengajar memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
ü  Memperhatikan kaitan antara yang menjelaskan, yang mendengarkan, dan bahan yang dijelaskan,
ü  Penjelasan dapat diberikan pada awal, tengah dan akhir pelajaran, tergantung dari munculnya kebutuhan akan penjelasan,
ü  Penjelasan yang diberikan harus bermakna dan sesuai dengan tujuan pelajaran, dan
ü  Penjelasan dapat disajikan sesuai dengan recana seorang pengajar atau bila kebutuhan akan suatu penjelasan muncul dari peserta didik.

5.      Membuka dan menutup pelajaran
Keterampilan membuka pelajaran adalah keterampilan yang berkaitan dengan usaha seorang pengajar dengan melalui kegiatan pembelajaran, sedangkan keterampilan menutup pelajaran adalah keterampilan yang berkaitan dengan usaha seorang tenaga pengajar dalam mengakhiri pelajaran. Kegiatan membuka dan menutup pelajaran terjadi beberapa kali selama kegiatan pembelajaran berlangsung, yaitu pada awal dan akhir setiap penggal kegiatan. Kegiatan membuka pelajaran merupakan bagian kegiatan menyiapkan peserta didik untuk memasuki inti kegiatan, sedangkan kegiatan penutup pelajaran adalah kegiatan untuk memantapkan atau menindaklanjuti topik yang telah dibahas. Tujuan yang ingin dicapai dengan menerapkan keterampilan membuka pelajaran adalah:
a.       Menyiapkan mental peserta didik untuk memasuki kegiatan init pelajaran,
b.      Membangkitkan motivasi dan perhatian peserta didik dalam mengikuti pelajaran,
c.       Memberikan gambaran yang jelas tentang batas-batas tugas yang harus dikerjakan peserta didik,
d.      Menyadarkan peserta didik akan hubungan antara pengalaman atau bahan yang sudah dimiliki atau diketahui dengan yang akan dipelajari, dan
e.       Memberikan gambaran tentang pendekatan atau kegiatan yang akan diterapkan atau dilaksanakan dalam kegiatan belajar.
Tujuan yang ingin dicapai dengan menerapkan keterampilan menutup pelajaran adalah:
a.       Memantapkan pemahaman peserta didik terhadap kegiatan belajar yang telah berlangsung,
b.      Mengetahui keberhasilan peserta didik dan pengajar dalam kegiatan pembelajaran yang telah dijalani, dan
c.       Memberikan tindak lanjut untuk mengembangkan kemampuan yang baru saja dikuasai.
·      Komponen-komponen keterampilan membuka dan menutup pelajaran
1)      Membuka pelajaran
Kegiatan membuka pelajaran dapat dilakukan pada setiap awal penggalan kegiatan. Komponen keterampilan yang perlu dikuasai seorang pengajar sebagai berikut:
a.       Menarik perhatian peserta didik
Menarik perhatian siswa merupakan langkah awal dalam membuka pelajaran. Dalam menarik perhatian dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti:
ü  Memvariasikan gaya mengajar seorang pengajar,
ü  Menggunakan alat-alat bantu mengajar yang dapat menarik perhatian peserta didik, dan
ü  Penggunaan pola interaksi yang bervariasi.
b.      Menimbulkan motivasi
Sebagai seorang pengajar hendaknya berusaha membangkitkan motivasi peserta didik pada setiap awal pelajaran atau awal penggal kegiatan. Cara menimbulkan motivasi ada bermacam-macam, sebagai berikut:
ü  Sikap hangat dan antusias,
ü  Menimbulkan rasa ingin tahu,
ü  Mengemukakan ide yang bertentangan, dan
ü  Memperhatikan minat siswa.
c.       Memberi acuan
Memberikan acuan dalam usaha membuka pelajaran bertujuan untuk memberikan gambaran singkat kepada peserta didik tentang berbagai topic atau kegiatan yang akan dipelajari peserta didik dalam pelajaran tersebut. Acuan dapat diberikan dengan berbagai cara, seperti berikut:
ü  Mengemukakan tujuan dan batas-batas tugas,
ü  Menyarankan langkah-langkah yang akan dilakukan,
ü  Mengingatkan masalah pokok yang akan dibahas, dan
ü  Mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
d.      Membuat kaitan
Sebuah pelajaran akan bermakna apabila dikaitakan dengan pengetahuan yang telah dimiliki oleh peserta didik. Meninjau kembali pemahaman peserta didik tentang aspek-aspek yang telah diketahui dari materi baru yang akan dijelaskan, member kaitan materi baru dengan materi yang sudah diketahui peserta didik.
2)      Menutup pelajaran
Kegiatan menutup pelajaran dilakukan pada setiap akhir penggal kegiatan. Agar kegiatan menutup pelajaran dapat berlangsung secara efektif, seorang pengajar diharapkan menguasai cara menutup pelajaran sebagai berikut:
a.       Meninjau kembali (mereview)
Pada setiap akhir penggal kegiatan seorang pengajar diharapkan menguasai cara menutup pelajaran sebagai berikut:
ü  Merangkum inti pelajaran, dan
ü  Membuat ringkasan.
b.      Menilai (mengevaluasi)
Penggalan kegiatan atau akhir satu pelajaran dapat ditutup dengan menilai penguasaan peserta didik tentang pelajaran yang telah dibahas. Penilaian dapat dilakukan dengan berbagai cara sebagai berikut:
ü  Tanya jawab secara lisan,
ü  Mendemonstrasikan keterampilan,
ü  Mengaplikasikan ide baru,
ü  Menyatakan pendapat tentang masalah yang dibahas, dan
ü  Memberikan soal-soal tertulis yang dikerjakan oleh peserta didik secara tertulis.
c.       Memberi tindak lanjut
Peserta didik dapat memantapkan atau mengembangkan kemampuan yang baru dipelajari, seorang pengajar memberikan tindak lanjut yang dapat berupa:
ü  Tugas-tugas yang dapat dikerjakan secara individu, dan
ü  Tugas kelompok untuk merancang sesuatu atau memecahkan masalah berdasarkan konsep yang baru dipelajari.
·      Prinsip-prinsip penggunaan
Penerapan keterampilan membuka dan menutup pelajaran harus mengikuti prinsip tertentu. Tanpa memperhatikan prinsip tersebut, kegiatan membuka dan menutup pelajaran tidak akan berlangsung secara efektif. Prinsip tersebut dibagi menjadi dua yaitu sebagai berikut:
1)      Bermakna
Kegiatan yang dilakukan dalam membuka dan menutup pelajaran haruslah bermakna, artinya relevan dengan materi yang akan dibahas dan sesuai dengan karakteristik peserta didik.
2)      Berurutan dan berkesinambungan
Membuka dan menutup pelajaran merupakan bagian yang utuh dari kegiatan pembelajaran dan bukan merupakan kegiatan yang berdiri sendiri. Oleh karena itu, seorang pengajar hendaknya selalu menjaga agar prinsip berurutan dan berkesinambungan ini terwujud di dalam kelas.

6.      Membimbing diskusi kelompok kecil
Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil merupakan keterampilan dasar mengajar yang dipelajari untuk lebih meningkatkan keterlibatkan peserta didik dalam pembelajaran. Berikut merupakan syarat-syarat diskusi kelompok kecil sebagai berikut:
a.       Melibatkan kelompok yang beranggotakan berkisar 3-9 orang,
b.      Berlangsung dalam situasi tatap muka yang informal,
c.       Mempunyai tujuan yang mengikat anggota kelompok sehingga terjadi kerja sama untuk mencapainya, dan
d.      Berlangsung menurut proses yang teratur dan sistematis menuju kepada tercapainya tujuan kelompok.
·      Komponen keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil
Seorang pengajar dapat membimbing diskusi kelompok secara efektif, ada enam komponen komponen keterampilan yang perlu dikuasai guru. Keenam komponen tersebut sebagai berikut:
1)      Memusatkan perhatian,
2)      Memperjelas masalah dan uraian pendapat,
3)      Menganalisis pendangan,
4)      Meningkatkan uraian,
5)      Menyebarkan kesempatan berpartisipasi, dan
6)      Menutup diskusi.
·      Prinsip penggunaan
Agar  keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil dapat diterapkan  secara efektif, harus memperhatikan prinsip penggunaan diskusi. Prinsip-prinsip penggunaan tersebut sebagai berikut:
1)      Diskusi dapat dilaksanakan dalam semua pengajaran bidang studi dengan mampu mengungkapkan pikiran dan perasanan secara lisan,
2)      Topik atau masalah yang didiskusikan haruslah topik atau masalah yang memerlukan informasi atau pendapat dari banyak orang untuk membahasnya,
3)      Diskusi kelompok di sekolah dasar masih memerlukan bantuan seorang pengajar untuk membimbingnya,
4)      Diskusi harus berlangsung dalam suasana terbuka yang penuh persahabatan,
5)      Sebelum diskusi, seorang pengajar hendaknya membuat perencanaan dan melakukan persiapan,
6)      Diskusi mempunyai kekuatan atau keuntungan yang dapat dimanfaatkan secara maksimal,
7)      Diskusi kelompok mempunyai kelemahan-kelemahan yang dapat mengagalkan atau tidak tercapainya tujuan diskusi, dan
8)      Seorang pengajar hendaknya menghindari kesalahan topik yang tidak sesuai, membiarkan penyimpangan, tidak memperjelas uraian, dan lain sebagainya.

7.      Mengelola kelas
Uzer Usman dalam Suryani (2012: 187) bahwa “pengelolaan kelas adalah keterampilan guru untuk menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya bila terjadi gangguan dalam proses belajar-mengajar”. Sedangkan menurut Wina Sanjaya dalam Suryani (2012: 187) bahwa “pengelolaan kelas merupakan keterampilan guru menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimal dan mengembalikannya manakala terjadi hal-hal yang dapat mengganggu suasana pembelajaran”. Menurut Uzer Usman dalam dalam Suryani (2012: 188) pengelolaan kelas mempunyai dua tujuan yaitu tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum pengelolaan kelas adalah menyediakan dan menggunakan fasilitas belajar untuk bermacam-macam kegiatan belajar-mengajar agar mencapai hasil yang baik. Sedangkan tujuan khusus adalah mengembangkan kemampuan peserta didik dalam menggunakan alat-alat belajar, sehingga membantu peserta didik untuk memperoleh hasil yang diharapkan.
·         Komponen-komponen keterampilan
1)         Keterampilan yang berhubungan dengan penciptaan dan pemeliharaan kondisi belajar yang optimal, dan
2)         Keterampilan yang berhubung dengan pengembangan kondisi belajar yang optimal
·         Prinsip-prinsip pengelolaan kelas
Terkait dengan pengelolaan kelas banyak faktor yang mempengaruhi baik faktor intern maupun faktor ekstern. Bagi seorang pengajar penting untuk mengetahui dan menguasai prinsip-prinsip pengelolaan kelas, sebagai berikut:
1)      Kehangatan dan keantusiasan seorang pengajar sangat berperan dalam menciptakan suasana kelas yang menyenangkan,
2)      Kata-kata dan tindakan seorang pengajar yang dapat menggugah peserta didik untuk belajar dan berperilaku baik akan mengurangi kemungkinan munculnya perilaku yang menyimpang,
3)      Penggunaan variasi dalam mengajar dapat mengurangi terjadinya gangguan,
4)      Keluwesan seorang pengajar dalam kegiatan pembelajaran dapat mencegah munculnya gangguan,
5)      Seorang pengajar harus selalu menekankan hal-hal positif dan menghindari pemusatan perhatian pada hal-hal yang negatif, dan
6)      Seorang pengajar hendaknya mampu menjadi contoh dalam menanamkan disiplin diri sendiri.

8.      Mengajar kelompok kecil dan perorangan
Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan merupakan keterampilan dasar mengajar yang paling kompleks dan menuntut penguasaan keterampilan dasar mengajar sebelumnya. Pengajaran kelompok kecil dan perorangan ditandai oleh ciri-ciri sebagai berikut:
a.       Terjadi hubungan (interaksi) yang akrab dan sehat antara pengajar dan peserta didik,
b.      Peserta didik sesuai dengan kecepatan, cara, kemampuan dan minatnya,
c.       Siswa mendapat bantuan dari seorang guru sesuai dengan kebutuhannya, dan
d.      Peserta didik dilibatkan dalam penentuan cara-cara belajar yang akan ditempuh.
Dilihat dari sisi seorang pengajar, pengajaran kelompok kecil dan perorangan menuntut seorang pengajaran berepran sebagai:
1)      Organisator kegiatan pembelajaran,
2)      Sumber informasi bagi peserta didik,
3)      Pendorong peserta didik untuk belajar,
4)      Penyedia materi dan kesempatan belajar bagi peserta didik,
5)      Orang yang mendiagnosis kesulitan peserta didik dan member bantuan yang sesuai dengan kebutuhannya, dan
6)      Peserta kegiatan yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan peserta lainnya.
·            Komponen  keterampilan
1)         Keterampilan mengadakan pendekatan secara pribadi
2)         Keterampilan mengorganisasikan kegiatan pembelajaran
3)         Keterampilan membimbing dan memudahkan belajar
4)         Keterampilan merencanakan dan melakukan kegiatan pembelajaran
·            Hal-hal yang perlu diperhatikan
1)         Seorang pengajar yang sudah biasa dengan pengajaran klasikal,
2)         Topik-topik yang bersifat umum,
3)         Sebelum pengajaran kelompok kecil atau perorangan sebelum dimulai, seorang pengajar harus melakukan peorganisasian,
4)         Kegiatan kelompok kecil atau perorangan yang efektif selalu diakhiri dengan kulminasi yang berupa rangkuman,
5)         Agar pengajaran perorangan dapat berlangsung secara efektif, dan
6)         Kegiatan perorangan dapat bervariasi.
















BAB III
PENUTUP DAN SARAN

1.      Penutup
Mengajar adalah satu pekerjaan professional, yang menuntut kemampuan yang kompleks untuk dapat melakukannya. Pekerjaan seorang pengajar menuntut keahlian tersendiri, sehingga tidak setiap orang mampu melakukan pekerjaan tersebut. Pemahaman dan kemampuan menerapkan keterampilan dasar mengajar secara utuh dan terintegrasi, diharapkan seorang pengajar mampu meningkatkan kualitas proses pembelajaran.
Dengan pengorganisasian tersebut, diharapkan seorang pengajar dapat menguasai keterampilan dasar mengajar. Menurut hasil penelitian (Turney, 1979) terdapat 8 keterampilan dasar mengajar yang dianggap berperan penting dalam menentukan keberhasilan pembelajaran. Keterampilan yang dimaksud adalah keterampilan:
1.   Bertanya,
2.   Memberikan penguatan,
3.   Mengadakan variasi,
4.   Menjelaskan,
5.   Membuka dan menutup pelajaran,
6.   Membimbing diskusi kelompok kecil,
7.   Mengelola kelas, dan
8.   Mengajar kelompok kecil dan perorangan.

2.      Saran

Bagi seorang pengajar maupun calon pengajar hendaknya mempelajari keterampilan dasar mengajar terlebih dahulu. Banyak hal yang dikemukakan keterampilan dasar mengajar dalam kaitannya mengenai komponen-komponen, prinsip penggunaan dan hal-hal yang perlu diperhatikan bagi pengajar. 






DAFTAR RUJUKAN

Suryani, Nunung & Agung Leo. Strategi Belajar Mengajar. Yogyakarta: 2012
Wardani & Julaeha Siti. Keterampilan Dasar Mengajar. Jakarta: 2005
Mulyada. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif Dan Menyenangkan. Bandung: 2005
Ginnis, Paul. Trik Dan Taktik Mengajar Strategi Meningkatkan Pencapaian Pengajaran Di Kelas. Jakarta: 2008



No comments:

Post a Comment