Monday, September 9, 2013

Motivasi Belajar (BNP)


MOTIVASI BELAJAR
Motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Apabila kondisi psikologis seseorang baik, maka dengan sendirinya motivasi untuk melakukan sesuatu juga akan baik. Dalam hal pembelajaran tentu perlu menjadi perhatian oleh pendidik karena tidak semua peserta datang ke sekolah dengan kondisi psikologis yang sama karena ada pengaruh internal dan eksternal peserta didik itu sendiri. Untuk itu, dalam perencanaan pembelajaran seorang pendidik perlu merancang sebuah strategi pembelajaran yang mampu memotivasi belajar peserta didik.
Motivasi belajar merupakan kekuatan (power motivation), daya pendorong (driving force), atau alat pembangun kesediaan dan keinginan yang kuat dalam diri peserta didik untuk belajar secara aktif, kreatif, efektif, inovatif, dan menyenangkan dalam perubahan perilaku, baik dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor. Agar motivasi belajar tesebut dimiliki oleh peserta didik maka dituntut kepiawaian guru dalam menentukan strategi yang tepat dalam pembelajaran sehingga mampu menumbuhkan motivasi belajar peserta didik. Apabila peserta didik sudah termotivasi untuk belajar dengan sendirinya akan berdampak terhadap proses dan hasil pembelajaran yang diharapkan serta dapat dijadikan dasar mengetahui ketercapaian tujuan pembelajaran oleh peserta pendidik.
·           Straegi Menumbuhkan Motivasi Belajar Peserta Didik
Dalam kegiatan belajar, motivasi peserta didik adalah salah satu tolak ukur menetukan keberhasilan dalam pembelajaran. Peserta didik yang tidak mempunyai motivasi belajar tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar. Tidak adanya aktivitas belajar tentu akan berdampak terhadap tujuan pembelajaran. Apabila tujuan pembelajaran tidak tercapai, mencerminkan kegagalan yang dilakukan pendidik. Untuk itu, pendidik perlu menciptakan strategi yang tepat dalam memotivasi belajar peserta didik.
Motivasi belajar yang dimiliki peserta didik berfungsi sebagai alat pendorong terjadinya prilaku belajar peserta didik, alat untuk mempengaruhi prestasi belajar peserta didik, alat untuk memberikan direksi terhadap pencapaian tujuan pembelajaran, dan alat untuk membangun sistem pembelajaran yang bermakna. Oemar Hamalik (2002) secara umum menyebutkan tiga fungsi motivasi, yaitu:
1. Mendorong manusia untuk berbuat (sebagai penggerak) yang merupakan langkah penggerak dari setiap kegiatan.
2. Menentukan arah perbuatan, yakni kearah tujuan yang hendak dicapai sehingga dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
3. Menyeleksi perbuatan, yakni menetukan perbuatan-perbuatan yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat diketahui bahwa motivasi berfungsi sebagai pendorong, pengarah, dan sekaligus sebagai penggerak prilaku seseorang untuk mencapai suatu tujuan. Begitu juga halnya dalam pencapaian tujuan pembelajaran, guru merupakan faktor yang penting untuk mengusahakan terlaksananya fungsi-fungsi tersebut dengan cara dan strategi yang tepat untuk menumbuhkan motivasi belajar peserta didik. Strategi menumbuhkan motivasi belajar peserta didik sangat ditentukan oleh perencanaan yang dibuat guru dalam pembelajaran. Dengan strategi motivasi yang tepat akan mampu memberikan kesuksesan dalam pembelajaran.
KRITIK
Peranan motivasi peserta didik dalam pembelajaran sangat dipengaruhi oleh strategi yang digunakan guru dalam membuat perencanaan pembelajaran yang berdampak terhadap proses pembelajaran yang dilaksanakan. Untuk itu, guru sebelum melaksanakan proses pembelajarn harus mampu melakukan pemetaan terhadap kompetensi dan motivasi siswa dalam belajar. Apabila pembelajaran telah diikuti secara optimal, otomatis berdampak terhadap proses dan hasil pembelajaran yang diperoleh peserta didik. Alhasil tujuan pembelajaran pun akan tercapai secara maksimal.
Untuk para guru agar membentuk kebiasaan belajar yang baik, Membantu kesulitan belajar peserta didik, Menggunakan metode yang bervariasi, Menggunakan media yang baik serta harus sesuai dengan tujuan pembelajaran. Sehingga murid dapat menerima materi dengan baik.
DAFTAR RUJUKAN
Nanang Hanafiah dan Cucu Suhana. 2010. Konsep Strategi Pembelajaran. Bandung: PT Refika Aditama.

BNP KTSP Vs Kurikulum 2013


NAMA            : DESIANA MERAWATI
NIM                : 120721435503
KELAS           : L
KTSP dan KURIKULUM 2013 MATA PELAJARAN GEOGRAFI
1.      Pengetahuan georafi
·      Kelebihan :
a.       Siswa dituntut mampu untuk memahami, menganalisis, menghayati, menginterprestasikan, mengkomunikasikan, menjelaskan, dan mendeskripsikan suatu permaslahan yang di bahas dalam mata pelajaran geografi dan mengamalkan ajaran agama.
b.      Para siswa diajarkan agar lebih memahami suatu mata pelajaran geografi dengan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari.
c.       Para siswa dituntut agar lebih maju dalam mengembangkan pelajaran geogarfi dengan media teknologi informasi dan komunikasi.
d.      Siswa tidak hanya diajarkan untuk berpatokan pada satu buku saja, tapi siswa diajarkan untuk mencari sumber dari referensi yang lain. Sehingga pengetahuan siswa akan lebih luas.
e.       Siswa dapat mengetahui dan menghayati tentang sebuah permasalahan yang ada di Indonesia. Misalnya tentang punahnya flora dan fauna, sehingga siswa dihadapkan untuk mulai mencintai akan lingkungan dan ikut melestarikan flora dan fauna.
·      Kelemahan :
a.         Guru dituntut agar lebih siap untuk menerapkan media pembelajaran dengan menggunakan media teknologi informasi dan komunikasi.
b.         Siswa tidak sepenuhnya dapat mudah menerima suatu materi yang pernah diajarkan oleh guru.
c.         Dalam pembelajaran dengan media teknologi informasi dan komunikasi, tidak sepenuhnya benar. Sehingga siswa butuh bantuan bimbingan dari guru.

2.      Geography skill
·      Kelebihan :
a.         Siswa dituntut untuk berdiskusi dan akan mempresentasikan hasil dari diskusi.
b.         Siswa dituntut untuk mengolah, menalar, dan menyajikan dengan pengembangan dari yang telah dipelajari di sekolah menggunkan metode sesuai kaidah keilmuan.
c.         Siswa dapat menyusun karya tulis, dan menyusun laporan observasi dalam suatu permasalahan yang diberikan oleh guru.
d.        Menyajikan suatu permasalahan dengan menggunkan teknologi informasi dan komunikasi atau menyajikan peta tematik dan SIG.
·      Kelemahan :
a.       Tidak semua siswa dapat menyusun karya tulis atau menyusun laporan observasi.
b.      Guru dituntut untuk menerapkan dan mempraktikkan SIG, dan peta tematik.
c.       Tidak semua siswa mempunyai kemampuan berfikir yang baik dalam menyampaikan atau mempresentasikan hasil dari diskusi.

3.      Sikap
·      Kelebihan :
a.       Siswa dapat menghayati keadaan alam semesta beserta isinya, keanekaragaman sumber daya alam, dan perbedaan potensi wilayah sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa sesuai dalam kurikulum 2013.
b.      Siswa dibentuk agar dapat  mudah menerima teknologi informasi dan komunikasi dalam mata pelajaran geografi.
c.       Guru harus siap membentuk sikap pada peserta didiknya.
·      Kelemahan :
a.       Tidak semua siswa menggunakan teknologi informasi dan komunikasi dengan baik.
b.      KTSP tidak menjelaskan tentang pembelajaran yang disangkutpautkan dengan Tuhan Yang Maha Esa.

4.      Nilai karakter
·      Kelebihan :
a.       Pada kurikulum 2013 telah dijelaskan bahwa nilai karakter pada siswa saat proses pembelajaran sangat penting.
b.      Di dalam kurikulum 2013 siswa diajarkan untuk jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, gotong royong, kerjasama, dan cinta damai dalam menunjukkan sikap sebagai dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial.
·      Kelemahan :
a.       Pada KTSP ini tidak adanyan pembentukan nilai karakter pada peserta didik atau siswa. Mereka hanya memmbentuk sikap saat materi yang disampaikan oleh guru, sehingga siswa hanya displin saat pelajaran saja. Tetapi tidak diterapkan juga dalam kehidupan sehari-hari.

5.      Pola kompetensi
·      Kelebihan :
a.       Pada kurikulum 2013 ini banyak kompetensi-kompetensi yang diajarkan pada siswa. Mulai dari sikap displin, jujur, tanggung jawab, kerjasama, dll.
b.      Siswa diajarkan untuk melatih sikap sesuai dengan nilai-nilai karakter yang diterapkan dalam dunia pendidikan.
c.       Pada kurikulum 2013 ini siswa dihadapkan kenampakan-kenampakan tentang permaslahan yang terjadi di sekitar lingkungan rumah dan sekolah, telah diajarkan untuk peduli dan melestarikan dengan memunculkan maslah-masalah dengan mencari solusi untuk memecahkan suatu permasalahan.
d.      Adanya penerapan bukan hanya di lingkungan sekolah, tetapi juga siswa dibentuk agar bisa menerapkan, memahami, menjelaskan pengetahuannya sesuai dengan dasar pancasila.
e.       Siswa dibentuk agar menempatkan diri dalam berinteraksi dalam pergaulan dunia.
·      Kelemahan :
a.       KTSP tidak membahas tentang kompetensi yang membentuk siswa untuk sikap jujur, tanggungjawab, displin, dll.
b.      Tidak semua  siswa dapat menerapkan, memahami, menjelaskan pengetahuannya sesuai dengan dasar pancasila.
c.       Tidak dijelaskan pada KTSP tentang  kenampakan-kenampakan tentang permaslahan yang terjadi di sekitar lingkungan rumah dan sekolah, telah diajarkan untuk peduli dan melestarikan dengan memunculkan maslah-masalah dengan mencari solusi untuk memecahkan suatu permasalahan.




Mengkritisi teori belajar menurut Pavlov


MENGKRITISI TEORI BELAJAR MENURUT PAVLOV
Desiana Merawati

ABSTRAK :Tingkah laku dan atau diri seseorang dapat dilakukan melalui latihan atau membiasakan mereaksi atau stimulus-stimulus yang dialami.Karena tingkah laku manusia sebagai individu yang reaktif.Teori belajar bukan hanya untuk mengembangkan bahwa kejiwaan seseorang mempengaruhi perilakunya, tetapi perlu disadari bahwa teori belajar juga perlu mengembangkan sikap mental seorang peserta didik dalam belajar. Sehingga stimulus menghasilkan respons yang pasti, tidak ada proses belajar.Sehingga respons yang pasti terjadi karena tidak adanya proses belajar.

KATA KUNCI : respons, stimulus, eksperimen, tingkah laku.

         
Tingkah laku manusia itu dapat diubah, baik ataupun buruknya. Responsi atas situasi cenderung diulang manakala individu menghadapi situasi yang sama. Seperti percobaan yang dikembangkan oleh Pavlop, ia melakukan percobaan terhadap anjing. Anjing tersebut diberi makanan dan diberi lampu. Pada saat diberi makanan dan lampu keluarlah respons anjing tersebut berupa keluarnya air liur. Demikian juga jika dalam pemberian makanan tersebut disertai bel, air liur tersebut juga keluar.
Pada saat bel atau lampu diberikan mendahului makanan, anjing tersebut juga mengeluarkan air liur. Makanan yang diberikan tersebut disebut sebagai perangsang tak bersyarat, sementara bel atau lampu yang menyertai disebut sebagai perangsang bersyarat. Terhadap perangsang tak bersyarat yang disertai dengan perangsang bersyarat tersebut, anjing memberikan respons berupa keluarnya air liur. Selanjutnya, ketika perangsang bersyarat (bel, lampu) diberikan tanpa perangsang tak bersyarat, anjing tersebut tetap memberikan respons dalam bentuk keluarnya air liur. Oleh karena perangsang bersyarat (sebagai pengganti perangsang tak bersyarat: makanan) ini ternyata dapat menimbulkan respons, maka dapat berfungsi sebagai conditioned. Karena itu, teori Pavlop ini dikenal dengan respondent-conditioning, selain dikenal juga dengan teori classical conditioning. Menurut Pavlop, pengkondisian yang dilakukan pada anjing ini, dapat juga berlaku pada manusia. Proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaannya terhadap anjing, dimana perangsang asli dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan.
Teori kondisioning  Pavlop tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :
1.    Makanan     respons  anjing mengeluarkan air liur (before conditioning),
2.    Bel responstidak mengeluarkan air liur (before Conditoning),
3.    Bel + makanan respons  mengeluarkan air liur (during conditioning),
4.    Bel respons anjing mengeluarkan air liur (after conitioning or conditioning stimulus).
Bertitik tolak dari asumsinya bahwa dengan menggunakan rangsangan-rangsangan tertentu, perilaku manusia dapat berubah sesuai dengan apa yang diinginkan. Kemudian Pavlov mengadakan eksperimen dengan menggunakan binatang (anjing) karena ia menganggap binatang memiliki kesamaan dengan manusia. Namun demikian, dengan segala kelebihannya, secara hakiki manusia berbeda dengan binatang. Makanan adalah rangsangan wajar, sedang sinar merah adalah rangsangan buatan. Ternyata kalau perbuatan yang demikian dilakukan berulang-ulang, rangsangan buatan ini akan menimbulkan syarat(kondisi) untuk timbulnya air liur pada anjing tersebut. Peristiwa ini disebut reflek bersyarat atau Conditioned Respons.
Pavlov berpendapat, bahwa kelenjar-kelenjar yang lain pun dapat dilatih. Bectrev murid Pavlov menggunakan prinsip-prinsip tersebut dilakukan pada manusia, yang ternyata diketemukan banyak reflek bersyarat yang timbul dan tidak disadari manusia. Melalui eksperimen tersebut Pavlov menunjukkan bahwa belajar dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Pavlov tidak  menjelaskan belajar yang melibatkan proses mental yang kompleks, dan ia berasumsi bahwa kesadaran hubungan CS (Classic conditioning)– US (conditioned stimulus) dari pembelajaran tidak dibutuhkan untuk proses belajar.
Teori belajar kondisioning ini kemudian dikembangkan oleh Gutrie (1935; 1942). Ia berpendapat bahwa tingkah laku manusia itu dapat diubah; tingkah laku baik dapat diubah menjadi jelek dan sebaliknya. Teori belajar Gutrie berdasarkan atas model penggantian stimulus satu ke stimulus lain. Setiap situasi belajar merupakan gabungan berbagai stimulus (dapat internal dan eksternal) dan respon.
Pengaruh Pavlov akan lebih besar jika beliau benar – benar mau mengkaji proses belajar. Windholz (1992) menunjukkan bahwa meskipun penemuan pengkondisian klasik dasar terjadi pada 1897, Pavlov menganggap karyanya berkaitan dengan penemuan fungsi sistem saraf dasar dan sebelum tahun 1930 dia tidak menyadari bahwa karyanya itu relevan dengan perkembangan teori belajar di Amerika. Pada tahun itu, dia sudah berumur delapan puluhan. Selama tahun – tahun terakhir hidupnya dia berspekulasi di atas, dia memberi pujian kepada E. L. Thorndike yang telah mengembangkan bidang ini.Eksperimen-eksperimen yang dilakukan Pavlov dan ahli lain tampaknya sangat terpengaruh pandangan behaviorisme, dimana gejala-gejala kejiwaan seseorang dilihat dari perilakunya dan dengan rangsangan-rangsangan tertentu perilaku manusia dapat berubah sesuai dengan apa yang diinginkan.
Hal yang perlu diperhatikan menurut teori belajar menurut Pavlov, yaitu : Mementingkan pengaruh lingkungan , mengutamakan mekanismeterbentuknyahasil belajar melalui prosedur stimulus respons, mementingkanperanan kemampuan yang sudah terbentuk sebelumnya, dan hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diingkan.Kelemahan lainnya pada teori belajar menurut Pavlop yaitu apabila stimulus yang diberikan hanya sekali atau dua kali, maka respons yang dihasilkan lama-lama akan hilang. Bila diterapkan dalam teori belajar ini, dapat menimbulkan belajar yang salah jika stimulus dan respons yang diberikan salah. Dapat menimbulkan ketergantungan stimulus, sehingga tidak ada proses belajar secara mandiri.
KESIMPULAN :
            Bahwa pengubahan tingkah laku dan atau diri seseorang dapat dilakukan melalui latihan atau membiasakan mereaksi atau stimulus-stimulus yang dialami. Stimulus yang ada pada diri manusia berbeda dengan hewan. Karena tingkah laku manusia sebagai individu yang reaktif yang memberikan respons terhadap lingkungan, pengalaman dan latihan untuk membentuk perilaku seseorang.
Teori belajar bukan hanya untuk mengembangkan bahwa kejiwaan seseorang mempengaruhi perilakunya, tetapi perlu disadari bahwa teori belajar juga perlu mengembangkan sikap mental seorang peserta didik dalam belajar. Dengan memberikan sikap disiplin sebagai pembentukan tingkah laku yang diharapkan sebagai penguatan saat tepat respons sesuai dengan yang diinginkan dan diisyaratkan. Pengkondisian atau persyaratan klasik, dimana proses melalui percobaan sebagai syarat untuk merangsang dan memunculkan reaksi pada organ tubuh.
            Stimulus menghasilkan respons yang pasti, sehingga tidak ada proses belajar. Hal ini terjadi apabila stimulus yang diberikan sudah menghasilkan respons yang pasti. Sehingga respons yang pasti tadi terjadi karena tidak adanya proses belajar. Perilaku dapat dibentuk melalui stimulus dari lingkungan yang berwujud kebiasaan. Sehingga respons yang diberikan sangat bergantung pada stimulus yang diberikan. Teori belajar sebaiknya dilakukan secara teratur dan mandiri.Pembelajaran siswa yang berpusat pada guru, bersifaat mekanistik, dan hanya berorientasi pada hasil yang dapat diamati dan diukur.Tidak setiap mata pelajaran bisa memakai metode ini, sehingga kejelian dan kepekaan guru pada situasi dan kondisi belajar sangat penting untuk menerapkan kondisi behavioristik.

DAFTAR RUJUKAN :
THEORIES OF LEARNING (Teori Belajar), Edisi Ketujuh. B. R. Hergenhahn. Mattahew H. Olson. (Hal. 221 – 222)