MENGKRITISI TEORI BELAJAR MENURUT PAVLOV
Desiana Merawati
E-Mail : 08973850468.desiana@gmail.com
ABSTRAK :Tingkah laku dan atau diri seseorang dapat dilakukan melalui
latihan atau membiasakan mereaksi atau stimulus-stimulus yang dialami.Karena
tingkah laku manusia sebagai individu yang reaktif.Teori belajar bukan hanya
untuk mengembangkan bahwa kejiwaan seseorang mempengaruhi perilakunya, tetapi
perlu disadari bahwa teori belajar juga perlu mengembangkan sikap mental
seorang peserta didik dalam belajar. Sehingga stimulus menghasilkan respons
yang pasti, tidak ada proses belajar.Sehingga respons yang pasti terjadi karena tidak adanya proses belajar.
KATA KUNCI : respons, stimulus, eksperimen, tingkah laku.
Tingkah laku manusia itu dapat diubah, baik ataupun buruknya.
Responsi atas situasi cenderung diulang manakala individu menghadapi situasi
yang sama. Seperti percobaan yang dikembangkan oleh Pavlop, ia melakukan
percobaan terhadap anjing. Anjing tersebut diberi makanan dan diberi lampu.
Pada saat diberi makanan dan lampu keluarlah respons anjing tersebut berupa
keluarnya air liur. Demikian juga jika dalam pemberian makanan tersebut
disertai bel, air liur tersebut juga keluar.
Pada saat bel atau lampu diberikan mendahului makanan, anjing
tersebut juga mengeluarkan air liur. Makanan yang diberikan tersebut disebut
sebagai perangsang tak bersyarat, sementara bel atau lampu yang menyertai
disebut sebagai perangsang bersyarat. Terhadap perangsang tak bersyarat yang
disertai dengan perangsang bersyarat tersebut, anjing memberikan respons berupa
keluarnya air liur. Selanjutnya, ketika perangsang bersyarat (bel, lampu)
diberikan tanpa perangsang tak bersyarat, anjing tersebut tetap memberikan
respons dalam bentuk keluarnya air liur. Oleh karena perangsang bersyarat
(sebagai pengganti perangsang tak bersyarat: makanan) ini ternyata dapat
menimbulkan respons, maka dapat berfungsi sebagai conditioned. Karena itu, teori Pavlop ini dikenal dengan respondent-conditioning, selain dikenal juga dengan teori classical conditioning. Menurut Pavlop, pengkondisian yang
dilakukan pada anjing ini, dapat juga berlaku pada manusia. Proses yang
ditemukan Pavlov melalui percobaannya terhadap anjing, dimana perangsang asli
dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga
memunculkan reaksi yang diinginkan.
Teori kondisioning Pavlop
tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :
1.
Makanan respons anjing mengeluarkan air liur (before conditioning),
2.
Bel responstidak mengeluarkan air liur (before
Conditoning),
3.
Bel +
makanan respons mengeluarkan air liur (during conditioning),
4.
Bel respons anjing mengeluarkan air liur (after
conitioning or conditioning stimulus).
Bertitik tolak dari asumsinya bahwa dengan menggunakan
rangsangan-rangsangan tertentu, perilaku manusia dapat berubah sesuai dengan
apa yang diinginkan. Kemudian Pavlov mengadakan eksperimen dengan menggunakan
binatang (anjing) karena ia menganggap binatang memiliki kesamaan dengan
manusia. Namun demikian, dengan segala kelebihannya, secara hakiki manusia
berbeda dengan binatang. Makanan adalah rangsangan wajar, sedang sinar merah
adalah rangsangan buatan. Ternyata kalau perbuatan yang demikian dilakukan
berulang-ulang, rangsangan buatan ini akan menimbulkan syarat(kondisi) untuk
timbulnya air liur pada anjing tersebut. Peristiwa ini disebut reflek bersyarat
atau Conditioned Respons.
Pavlov berpendapat, bahwa kelenjar-kelenjar yang lain pun dapat
dilatih. Bectrev murid Pavlov menggunakan prinsip-prinsip tersebut dilakukan
pada manusia, yang ternyata diketemukan banyak reflek bersyarat yang timbul dan
tidak disadari manusia. Melalui eksperimen tersebut Pavlov menunjukkan bahwa belajar
dapat mempengaruhi perilaku seseorang. Pavlov tidak menjelaskan belajar yang melibatkan proses
mental yang kompleks, dan ia berasumsi bahwa kesadaran hubungan CS (Classic
conditioning)– US (conditioned
stimulus) dari pembelajaran tidak
dibutuhkan untuk proses belajar.
Teori belajar kondisioning ini kemudian dikembangkan oleh Gutrie
(1935; 1942). Ia berpendapat bahwa tingkah laku manusia itu dapat diubah;
tingkah laku baik dapat diubah menjadi jelek dan sebaliknya. Teori belajar
Gutrie berdasarkan atas model penggantian stimulus satu ke stimulus lain. Setiap
situasi belajar merupakan gabungan berbagai stimulus (dapat internal dan
eksternal) dan respon.
Pengaruh
Pavlov akan lebih besar jika beliau benar – benar mau mengkaji proses belajar.
Windholz (1992) menunjukkan bahwa meskipun penemuan pengkondisian klasik dasar
terjadi pada 1897, Pavlov menganggap karyanya berkaitan dengan penemuan fungsi
sistem saraf dasar dan sebelum tahun 1930 dia tidak menyadari bahwa karyanya
itu relevan dengan perkembangan teori belajar di Amerika. Pada tahun itu, dia
sudah berumur delapan puluhan. Selama tahun – tahun terakhir hidupnya dia
berspekulasi di atas, dia memberi pujian kepada E. L. Thorndike yang telah
mengembangkan bidang ini.Eksperimen-eksperimen yang
dilakukan Pavlov dan ahli lain tampaknya sangat terpengaruh pandangan
behaviorisme, dimana gejala-gejala kejiwaan seseorang dilihat dari perilakunya
dan dengan rangsangan-rangsangan tertentu perilaku manusia dapat berubah sesuai
dengan apa yang diinginkan.
Hal yang perlu diperhatikan menurut teori belajar menurut Pavlov, yaitu
: Mementingkan pengaruh lingkungan , mengutamakan mekanismeterbentuknyahasil
belajar melalui prosedur stimulus respons, mementingkanperanan kemampuan yang sudah
terbentuk sebelumnya, dan hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku
yang diingkan.Kelemahan lainnya pada teori belajar menurut Pavlop yaitu apabila
stimulus yang diberikan hanya sekali atau dua kali, maka respons yang
dihasilkan lama-lama akan hilang. Bila diterapkan dalam teori belajar ini, dapat
menimbulkan belajar yang salah jika stimulus dan respons yang diberikan salah.
Dapat menimbulkan ketergantungan stimulus, sehingga tidak ada proses belajar
secara mandiri.
KESIMPULAN :
Bahwa pengubahan tingkah laku dan
atau diri seseorang dapat dilakukan melalui latihan atau membiasakan mereaksi
atau stimulus-stimulus yang dialami. Stimulus yang ada pada diri manusia
berbeda dengan hewan. Karena tingkah laku manusia sebagai individu yang reaktif
yang memberikan respons terhadap lingkungan, pengalaman dan latihan untuk
membentuk perilaku seseorang.
Teori belajar bukan hanya untuk mengembangkan bahwa kejiwaan
seseorang mempengaruhi perilakunya, tetapi perlu disadari bahwa teori belajar
juga perlu mengembangkan sikap mental seorang peserta didik dalam belajar.
Dengan memberikan sikap disiplin sebagai pembentukan tingkah laku yang
diharapkan sebagai penguatan saat tepat respons sesuai dengan yang diinginkan
dan diisyaratkan. Pengkondisian atau persyaratan klasik, dimana proses melalui
percobaan sebagai syarat untuk merangsang dan memunculkan reaksi pada organ
tubuh.
Stimulus menghasilkan respons yang
pasti, sehingga tidak ada proses belajar. Hal ini terjadi apabila stimulus yang
diberikan sudah menghasilkan respons yang pasti. Sehingga respons yang pasti
tadi terjadi karena tidak adanya proses belajar. Perilaku dapat dibentuk
melalui stimulus dari lingkungan yang berwujud kebiasaan. Sehingga respons yang
diberikan sangat bergantung pada stimulus yang diberikan. Teori belajar
sebaiknya dilakukan secara teratur dan mandiri.Pembelajaran
siswa yang berpusat pada guru, bersifaat mekanistik, dan hanya berorientasi pada
hasil yang dapat diamati dan diukur.Tidak setiap mata pelajaran bisa memakai metode ini, sehingga kejelian dan
kepekaan guru pada situasi dan kondisi belajar sangat penting untuk menerapkan kondisi
behavioristik.
DAFTAR RUJUKAN :
THEORIES OF LEARNING (Teori
Belajar), Edisi Ketujuh. B. R. Hergenhahn. Mattahew H. Olson. (Hal. 221 – 222)
No comments:
Post a Comment