BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Guru
merupakan symbol otoritas dalam menciptakan iklim kelas dan kondisi interaksi
di antara murid-murid. Oleh sebab itu sikap guru terhadap siswa mereka adalah
penting, sebab guru mengambil suatu peran sentral dalam kehidupan anak-anak,
yang sangat menentukan bagaimana mereka merasakan berada di sekolah dan
bagaimana mereka merasakan diri mereka. Ada beberapa hal yang kadang kala dapat
menghambat pemahaman peserta didik untuk menangkap pelajaran yang disampaikan
oleh guru. Untuk itu setiap guru hendaknya faham tentang kondisi setiap anak
didiknya. Hal itu bias dilakukan dengan cara mengetahui hubungan interpersonal
murid dengan keluarga, teman sebaya, lingkungan sekolah, dan lain-lain. Dengan
begitu seorang guru mampu mengambil tindakan yang tepan dalam mengatasi
hambatan tersebut.
Terdapat
beberapa tingkah laku social positif yang dilakukan peserta didik, di antaranya
adalah tingkah laku yang membuat kondisi fisik atau psikis orang lain menjadi
lebih baik, kondisi itu biasa disebut dengan tingkah laku prososial.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan
Latar Belakang di atas, maka dapat diambil suatu rumusan masalah sebagai
berikut ;
1. Bagaimana hubungan interpersonal
antara anak dengan keluarga?
2. Bagaimana hubungan interpersonal
antara anak dengan teman sebaya?
3. Apakah persahabatan itu?
4. Bagaimana hubungan interpersonal
antar anak dengan sekolah?
5. Apa yang dimaksud tingkah laku
prososial?
6. Apa saja faktor yang mempengaruhi
tingkah laku prososial?
7. Bagaimana implikasi Perkembangan
tingkah laku prososial dengan konseling?
1
C. Tujuan pembahasan
1. Untuk mengetahui hubungan
interpersonal antara anak dengan keluarga
2. Untuk mengetahui hubungan
interpersonal antara anak dengan teman sebaya
3. Untuk mengetahui pengertian persahabatan
itu
4. Untuk mengetahui hubungan
interpersonal antar anak dengan sekolah
5. Untuk mengetahui pengertian tingkah
laku prososial
6. Untuk mengetahui faktor yang
mempengaruhi tingkah laku prososial
7. Untuk mengetahui implikasi
Perkembangan tingkah laku prososial dengan konseling
2
BAB
II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A. Hubungan dengan keluarga
1. Masa anak-anak awal
Selama tahun-tahun prasekolah, hubungan dengan orang atau pengasuhnya merupakan
dasarbagi pekembangan emosional dan sosial anak. Sejumlah ahli mempercayai
bahwa kasih sayang orang tua atau pengasuh selama beberapa tahun pertama
kehidupan merupakan kunci utama perkembangan soaial anak, meningkatkan
kemungkinan anak memiliki kompetensi secara sosial dan penyesuaian diri yang
baik pada tahun-tahun prasekolah dan sesudahnya.
Salah satu aspek penting dalam hubungan orang tua dan anak adlah gaya
pengasuhan yang diterapkan oleh orang tua. Study klasik tentang hubungan orang
tua dan anak yang dilakukan Diana Baumrind 1972 (dalam lerner dan hultsch)
merekomendasikan tiga tipe pengasuhan yang dikaitkan dengan aspek-aspek yang
berbeda dalam tingkah laku sosial anak, yaitu otoritatif, otoriter dan
permisif.
Pengasuhan otoritatif (authoritative parenting) adalah salah satu gaya
pengasuhan yang memperlihatkan pengawasan ekstra ketat terhadap tingkah
laku anak-anak, tetapi mereka juga bersikap responsif, menghargai dan
menghormati pemikiran, perasaan, serta mengikut sertakan anak dalam pengambilan
keputusan. Anak-anak prasekolah dari orang tua otoritatif cenderung lebih
percaya pada diri sendiri, pengawasan diri sendiri, dan mampu bergaul baik
dengan teman-teman sebayanya. Pengasuhaqn otoritatif juga diasosiasikan dengan
rasa harga diri yang tinggi (high self –esteem) memiliki moral standar,
kematangan psikososial, kemandirian sukses dalam belajar. Dan bertanggung jawab
secara sosial.
Pengasuhan otoriter (authoritarian parenting)adalah suatu gaya pengasuahan
membatasi dan menuntut anak untuk mengikuti perintah-perintah orang tua. Orang
tua yang otoriter menetapkan batas-bats yang tegas dan tidak memberi peluang
yang besar bagi anak-anak untuk mengungkapkan pendapat.Orang tua otoriter juga
cenderung bersikap sewenang-wenang dan tidak demokratis dalam membuat
keputusan, memaksakan peran-peran atau pandangan-pandangan kepada pemikiran dan
persaan mereka. Anak dari orang tua yang bersifat otoriter cenderung curiga
pada orang lain dan merasa tidak bahagia dirinya sendiri, merasa canggung
berhubungan dengan teman sebaya, canggung menyesuaikan diri pada awal masuk
sekolah dan mempunyai prestasi belajar yang rendah dibanding dengan anak-anak
lain.
Pengasuhan permesif (permissive parenting) gaya pengasuhan permesif dapat
dibedakan
dalam
dua bentuk, yaitu pertama pengasuhan permissive-indulgent yaitu suatu gaya
pengasuhan dimana orang tua sangat terlibat dalam kehidupan anak, tetapi
menetapkan sedikit batas atau kendali atas mereka sendiri dan selalu
menharapkan agar semua kemauannya dituruti. Kedua, pengasuhan
permessive-indifferent, yaitu semua gaya pengasuhan dimana orang tua tidak
terlibat dalam kehidupan anak. Anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua ini
biasanya cenderung kurang percaya diri, pengendalian diri yang buruk, dan harga
diri yang rendah.
2. Masa pertengahan dan akhir anak-anak
Kemerosotan dalam hubungan keluarga yang di mulai pada akhir masa bayi terus
berlanjut pada masa pertengahan dan akhir anak-anak. Sesuai dengan perkembangan
kognitifnya yang semakin matang, maka pada masa pertengahan dan akhir, anak
secara berangsur-angsur lebih banyak mempelajarimengenal sikap-sikap dan
motivasi orang tuanya, serta memahami aturan-aturan keluarga, perubahan ini
mempunyai dampak yang besar terhadap kualitas hubungan anak-anak usia
sekolah dan orang tua mereka (dalam seifert dan hoffnung, 1994). Dalam hal ini,
orang tua meraskan pengontrolan dirinya terhadap tingkah laku anak mereka
berkurang dari waktu ke waktu dibandingkan pada tahun-tahun awal kehidupan
mereka. Beberapa kendali dialihkan dari orang tua kepada anaknya, walaupun
prosesnya secara bertahap dan merupakan koregulasi.
Dengan demikian, meskipun terjadinya pengurangan pengawasan dari orang tua
terhadap anaknya selama masa akhir anak-anak ini, bukan berarti orang tua sama
sekali melepaskan mereka. Sebaliknya orang tua masih memonitor
usaha-usaha yang dilakukan anak dalam memelihara diri mereka, sekalipun secara
tidak langsung.
Perubahan-perubahan ini berperan dalam pembentukan stereotip pengasuhan dari
orang tua sepanjang masa akhir anak-anak. Dalam hal ini orang tua memandang
pengasuhan hanya meliputi mengurus masalah makanan, atau penerapan beberapa
aturan saja. Stereotip pengasuhan demikian jelas tidak mempertimbangkan
aktivitas orang tua dan anak yang masih sering dilakukan secara bersama-sama.
Stereotip pengasuhan ini juga tidak mempertimbangkan hubungan emosional
yang mendasari aktivitas-aktivitas tersebut.
Pada periode ini, orang tua dan anak-anak masih mempunyai sekumpulan
pengalamamn masa lalu bersama, dan pengalaman ini membuat hubungan keluarga
menjadi bertambah unik dan penuh arti. Suatu studi mendokumentasikan mengenai
gagasan ini dengan menganalisis dari anak-anak ini bahwa mereka selamanya
menghsrgsi kehadirang ibu dalam kehidupan mereka:”Dia selalu hadir untuk
mendengarkan” kata seorang anak. Mereka juga mengahrgai empati atau sensifitas
yang diberikan oleh ibu mereka : “Dia nampaknya selalu memahami bagaimana
perasaan saya”. Komentar ini menyiratkan bahwa pada masa akhir anak-anak,
secara tipikal, ikatan antara orang tua
dan
anak-anak adalah sangat kuat (sefert dan hoffnung, 1994).
3. Masa remaja
Perubahan-perubahan fisik, kognitif dan sosial yang terjadi dalam perkembangan
remaja menonjol dari remaja yang mempenagruhi relasinya dengan orang tua adalah
perjuangan untuk memperoleh otonomi, baik secara fisik maupun pikologis. Karena
remaja meluangkan lebih sedikit waktunya bersama orang tua dan lebih banyak
menghabiskan waktu untuk saling berinteraksi dengan dunia yang lebih luas, maka
mereka berhadapan dengan bermacam-macam nilai dan ide-ide, seiring dengan
terjadinya perubahan kognitif selama remaja, perbedaan ide-ide yang dihadapi
sering mendorongnya untuk melakukan pemeriksaan terhadap nilai-nilai dan
pelajaran-pelajaran yang yang berasal dari orang tua. Akibatnya, remaja mulai
mempertanyakan dan menentang pandangan-pandangan orang tua serta mengembangkan
ide-ide mereka sendiri. Orang tua tidak lagi dipandnag otoritas yang serba
tahu. Secara optimal, remaja mengembangkan pandangan-pandangan yang lebih
matang dan realistis dari orang tua mereka. Kesadaran bahwa mereka adalah
seorang yang memiliki kemampuan, bakat, dan pengetahuan tertentu, mereka
memandang orang tua sebagai orang yang harus dihormati, dan sekaligus dari
proses pencapaian otonomi psikologis ini mengharuskan anak remaja untuk meninjau
kembali gambaran tentang orang tua dan mengembangkan ide-ide pribadi.
Beberapa peneliti tentang perkembangan anak remaja menyatakan bahwa pencapaian
otonimi psikologis merupakan salah satu tugas perkembangan yang penting dari
masa remaja, akan tetapi terdapat perbedaan mengenai tipe lingkungan keluarga
yang lebih kondusif bagi perkembangan otonomi ini. Sejumlah teoritis dan
penelitian kontemporer menyatakan bahwa otonomi yang baik berkembang dari
hubungan orang tua yang positif dan suportif. Menurut mereka, hubungan orang
tua yang suportif memungkinkan untuk mengungkapkan perasaan positif dan
negatif, yang membantu perkembangan kompetensi sosial dan otonomi yang
bertanggung jawab. Hasil penelitian lambor dan stemberg (1993) misalnya,
menunjukkan bahwa perjuangan remaja untuk meraih otonomi tampaknya berhasil
dengan sangat baik dalam lingkungan keluarga yang simultan memberikan dorongan
dan kesempatan bagi remaja untuk memperoleh kebebasan emosional. Sebaliknya,
remaja yang tetap tergantung secara emosional pada orang tuanya mungkin dirinya
selalu merasa enak, mereka terlihat kurang kompenten, kurang percaya diri,
kuarang berhasil dalam belajar dan bekerja dibandingkan dengan renaja yang
mencapai kebebasan emosional (Dacey dan Kenny, 1997).
Belakangan, para ahli perkembangan mulai menjelajahi peran keterikatan yang
aman (scure attachment) dengan orang tua terhadap perkembangan remaja. Mereka
yakin bahwa
keterikatan
dengan orang tua pada masa remaja dapat membantu kompetensi sosial dan
kesejahteraan sosialnya, seperti tercermin dalam cirri-ciri: harga diri,
penyesuaian emosional, dan kesehatan fisik. Misalnya, remaja yang memiliki
hubungan yang nyaman dan harmonis dengan orang tua mereka, memiliki harga diri
dan kesejahteraan yang emosional yang lebih baik. Sebaliknya,
ketidakdekatan (detachment) emosional dengan orang tua berhubungan denagn
perasaan-perasaan akan penolakan oleh orang tua yang lebih besar serta perasaan
lebih rendahnya daya tarik sosial dan romantic yang dimiliki diri sendiri
(santrock, 1995).
Dengan demikian, keterikatan dengan orang tua selam masa remaja dapat
berfungsi adaptif, yang menyediakan landasan yang kokoh dimana remaja dapat
menjelajahi dan menguasai lingkungan-lingkungan baru dan suatu dunia sosial
yang luas dengan cara-cara yang sehat secara psikologis. Keterikatan yang kokoh
dengan orang tua akan meningkatkan relasi dengan teman sebaya yang lebih
kompeten dan hubungan erat yang positif diluar keluarga. Keterikatan yang kokoh
dengan orang tua juga dapat menyangga remaja dari kecemasan dan
perasaan-perasaan depresi sebagai akibat dari masa transisi, dari masa
anak-anak ke masa dewasa.
Begitu pentingnya factor keterikatan yang kuat antara orang tua dengan remaja
dalam menentukan arah perkembangan remaja, maka orang tua senantiasa harus
menjaga dan mempertahankan keterikatan atau kedekatan orang tua dengan anak
remaja mereka, orang tua harus membiarkan mereka bebas untuk berkembang hanya
dengan cara melepaskan mereka suatu kehidupan yang koeksistensi yang penuh
kedamaian dan makna orang tua
dan remaja bias dicapai.
Dengan perkataan lain, bahwa ketika remaja menuntut otonomi, maka orang tua
yang bijaksana harus melepaskan kendali dalam bidang-bidang dimana remaja dapat
mengambil keputusan-keputusan yang masuk akal, disamping terus memberikan
bimbingan untuk mengambil keputusan-keputusan yang masuk akal pada
bidang-bidang dimana pengetahuan anak remajanya masih terbatas.
B. Hubungan dengan teman sebaya
1. Masa anak-anak awal
Perkembangan psikososial dan kepribadian sejak usia prasekolah hingga akhir
masa ditandai oleh semakin meluasnya pergaulan sosial, terutama dengan
teman sebaya. Dengan sebaya (peer) sebagai sebuah kelompok sosial sering
didefinisikan sebagai semua orang yang memiliki kesamaan sosial, atau yang
memiliki kesamaan ciri-ciri, seperti kesamaan tingkat usia(hetherington dan
parke, 1981). Akan tetapi, belakangan definisi teman sebaya lebih ditekankan
pada kesamaan tingkah laku atau psikologis(Lewis dan Rosenblum, 1975).
Sejumlah penelitian telah merekomendasikan betapa hubungan sosial dengan teman
sebaya
memiliki arti yang sangat penting bagi perkembangan pribadi anak. Salah
satu fungsi kelompok teman sebaya yang paling penting ialah menyediakan suatu
sumber informasi dan umpan balik tentang kemampuan-kemampuan
mereka dari kelpompok teman sebaya. Anak-anak mengavaluasi apakah yang
mereka lakukan lebih baik, sama atau lebih jelek dari yang dilakukan oleh
anak-anak lain. Menggunakan orang lain sebagai tolok ukur untuk
membandingkan dirinya. Proses pembandingan sosial ini merupakan dasar bagi
pembentukan rasa harga diri dan gambaran diri anak(hethering dan parke, 1981).
Dari beberapa investigasi yang dilakukan oleh para ahli perkembangan
menunjukkan bahwa relasi yang baik antar teman sebaya memiliki peran penting
dalam perkembangan sosial yang normal. Isolasi sosial atau ketidak mampuan
untuk melebur ke dalam suatu jaringan sosial, diasosiasikan dengan banyak
masalah dan kelainan yang beragam, mulai dari kenakalan dan masalah minuman
keras hingga depresi. Bahkan relasi yang buruk diantara teman-teman sebaya pada
masa anak-anak diasosiasikan dengan suatu kecenderungan untuk putus sekolah
perilaku nakal pada masa remaja. Sebaliknya, relasi yang harmonis diantara
teman-teman sebaya pada masa remaja diasosiasikan denagn kesehatan mental
yang positif pada usia tengah baya(Santrock,1995).
2. Masa pertengahan dan akhir
anak-anak.
Seperti halnya dengan masa awal anak-anak, berinteraksi
dengan teman sebaya merupakan aktivitas yang banyak menyita waktu anak selama
masa pertengahan dan akhir anak-anak. Barker dan Wright (dalam , 1995) mencatat
bahwa anak-anak usia 2 tahun menghabiskan 10% waktu siangnya untuk berinteraksi
dengan teman sebaya. Pada usia tahun 4 tahun, waktu yang dihabiskan untuk
berinteraksi dengan teman sebaya meningkat menjadi 20%. Sedangkan anak usia 7
hingga 11 meluangkan lebih dari 40% waktunya untuk berinteraksi dengan teman
sebaya.
Ø Pembentukan kelompok
Interaksi teman sebaya dari
kebanyakan anak pada periode akhir ini terjadi dalam group atau kelompok,
sehingga periode ini sering disebut usia kelompok. Pada masa ini, anaka tidak
lagi puas bermain sendirian dirumah, atau melakukan kegiatan-kegiatan dengan
anggota keluarga. Hal ini adalah karena anaka memiliki keinginan yang kuat
untuk di terima sebagai anggota kelompok, serta merasa tidak puas bila tidak
bersama teman-temannya.
Dalam menentukan sebuah kelompok
teman, anak usia sekolah dasar ini lebih menekankan pentingnya aktivitas
bersama-bersama, seperti berbicara, berkeluyuran, berjalan ke sekolah,
berbicara malalui telephon, mendengarkan musik, bermain game, dan melucu.
Tinggal di lingkungan yang sama, bersekolah disekolah yang sama, dan
kemungkinan
terbentuknya kelompok teman sebaya
(Rubin dan Krasnor,1980). Mencatat adanya perubahan sifat dari kelompok teman
sebaya pada masa pertengahan anak-anak ketika anak berusia 6 hingga 7 tahun,
kelompok teman sebaya tidak lebih dari pada kelompok bermain; mereka memilik
sedikit peraturan dan tidak terstruktur untuk menjelaskan peran dan kemudahan
berinteraksi diantara anggota-anggotanya. Kelompok terbentuk secara spontan.
Ketika anak berusia 9 tahun, kelompok-kelompok menjadi lebih formal. Sekarang
anak-anak berkumpul menurur minat yang sama dan merencanakan
perlombaan-perlombaan. Mereka membentuk klub atau kelompok dengan aturan-aturan
tertentu. Kelompok-kelompok ini mempunyai keanggotaan inti; masing-masing
anggota harus berpartisipasi dalam aktivitas kelompn ok, dan yang bukan anggota
dikluarkan.
Ø Popularitas, penerimaan sosial dan
penolakan
Pada masa pertengahan dan akhir
anak-anak, anak mulai mengembangkan suatu penilaian terhadap orang lain dengan
berbagai cara. Hal ini terlihat pada anak-anak kelas dua atau kelas tiga yang
telah memiliki stereotip. Budaya tentang tubuh. Dalm hal ini mereka misalnya
menilai bahwa anak alki-laki yang tegap (berotot) lebih disenangi dari pada
anak laki-laki yang gemuk atau yang kurus. Kemudian pemilihan teman dari
anak-anak ini terus meningkat dengan lebih mendasarkan pada kualitas pribadi,
seperti kejujuran, kebaikan hati, humor dan kreatifitas.
Para ahli psikologi perkembangan
telah lama mempelajari pembentuka kelompok teman sebaya dan status dalam
untuk menentukan mana anak-anak yang sering sendiri dan mana yang disenangi
oleh anak-anak lain. Dalam penelitian ini, mereka tealh menggunakan suatu
teknik yang disebut sosiometri, (Hallman,1981), yaitu suatu teknik penelitian
yang digunakan untuk menentukan status dan penerimaan sosial anak diantara
teman sebayanya. Dalam hal ini, mereka secara khas menanyakan kepada anak-anak
yang tergabung dalam suatu organisasi, (misalnya, dalam ruan kelas), tentang
mana anak-anak yang pantas dikelompokkan sebagai “taman baik” yang “paling
disukai oleh anak-anak lain”, atau yang kurang disukai. Atas dasar
jawaban-jawaban dari anak-anak tersebut, para peneliti sebuah sosiogram, yaitu suatu
diagram yang menggambarkan interaksi suatu anggota kelompok, atau
bagaimanaperasaan masing-masinganak dalam suatu kelompok terhadap anak-anak
lain. Sosiogram ini menentukan mana anak-anak yang diterima oleh anak-anak
lain, mana yang diterima oleh sedikit teman sekelas, dan mana anak yang tidak
diterima oleh seorangpun. Berdasarkan informasi ini, kemudian para
penelitimembedakan anak-anak atas dua, yaitu anak-anak yang populer
(popular) dan anak-anak yang tidak populer (un populer).
Anak yang populer, popularitas
seorang anak ditentukan oleh berbagai kualitas pribadi yang dimilikinya. Hartup
(1983) mencatat bahwa anak yang pouler adalah anak yang ramah, suka bergaul,
bersahabat, sangat peka secara sosial, dan sangat mudah bekerjasama dengan
orang lain. Asher et.al (dalam Seifert dan Huffnung,1994), juga mencatat bahwa
anak-anak yang populer adalah anak-anak yang dapat menjalin interaksi sosial
dengan mudah, memahami situasi sosial, memiliki keterampilan yang tinggi dalam
hubungan antar pribadi dan cenderung bertindak dengan cara-cara yang
kooperatif, prososial, serta selaras dengan norma-norma kelompok. Popularitas
juga dihubungkan dengan IQ dan prestasi akademik anak-anak lebih menyukai anak
yang memiliki prestasi sedang, mereka sering menjauh dari anak yang sangat
cerdas dan sangat rajin disekolah, demikian juga halnya dengan mereka yang
pemalas secara akademis (Zigler dan Stevenson,1993).
Anak yang tidk populer. Dapat
dibedakan atas 2 tipe, yaitu: anak-anak yang ditolak (Rejected Children), dan
anak-anak yang diabaikan (Neglected Children) anak-anak yang diabaikan adalah
anak yang menerima sedikit perhatian dari teman-teman sebaya mereka, tetapi
bukan berarti mereka tidak disenangi oleh teman-teman sebayanya. Anak-anak yang
ditolak adalah anak-anak yang tidak disukai oleh taman-teman sebaya mereka.
Mereka cenderung bersifat mengganggu, egois, dan mempunyai sedikit sifat
positif.
Anak-anak yang ditolak
kemungkinan untuk memperlihatkan perilaku agresif, hiperaktif, kurang perhatian
atau ketidakdewasaan, sehingga sering bermasalah dalm perilaku dan akdemis
disekolah (Pu tallaz dan Waserman, 1990). Akan tetapi tidak semua anak-anak
yang ditolak bersifat agresif. Meskipun perilaku agresif implusif dan
mengganggu, mereka sering menjadi penyebab mengapa mereka mengalami penolakan,
namun kira-kira 10 hingga 20% anak-anak yang ditolak adalah anak yang
pemalu (Santrock,1996).
3. Masa-masa remaja
Berbeda halnya dengan masa anak-anak hubungan teman sebaya
remaja lebih didasarkan pada hubungan persahabatan. Menurut Bloss (1962),
pembentukan persahabatan remaja erat kaitannya dengan perubahan aspek-aspek
pengendalian psikologis yang berhubungan dengan kecintaan pada diri sendiri dan
munculnya phallic conflicts. Erikson (1968) memandang tren perkembangan ini dari
perspektif normative-live-crisis, diaman teman memberikan feedback dan
informasi yang konstruktif tentang self-definition dengan penerimaan komitmen.
Kelly dan Hansen (1987)menyebutkan 6 fungsi positif dari
teman sebaya, yaitu:
1. Mengontrol implus-implus agresif.
Melalui interaksi dengan teman sebaya, remaja belajar bagaimana memecahkan
pertentangan-pertentangan dengan cara-cara yang lain selain dengan
tindakan agresif langsung.
2. Memperoleh dorongan emosional dan
sosial serta menjadi lebih independen. Untuk mengambil peran dan tanggungjawab
baru mereka. Dorongan yang diperoleh remaja dari teman-teman sebaya mereka ini
akan menyebabkan berkurangnya ketergantungan remaja pada dorongan keluraga
mereka.
3. Meningkatkan keterampilan-keterampilan
sosial. Mengembangkan kemampuan penalaran, dan belajar untuk mengekspresikan
perasaan-perasaan dengan cara-cara yang lebih matang. Melalui percakapan dan
perdebatan dengan teman sebaya. Remaja belajar mengekspresikan ide-ide dan
perasaan-perasaan serta mengembangkan kemampuan mereka memecahkan masalah.
4. Mengambangkan sikap terhadap
seksualitas dan tingkah laku peran jenis kelamin. Sikap-sikap seksual dan
tingkah laku peran jenis kelamin terutama di bentuk melalui interaksi
dengan teman sebaya, remaja belajar mengenai tingkah laku dan sikap-sikap yang
mereka asosiasikan dengan menjadi laki-laki dan perempuan muda.
5. Memperkuat penyesuaian moral dan
nilai-nilai. Umumnya orang dewasa mengajarkan pada anak-anak mereka tentang apa
yang benar dan apa yang salah.
Dalam kelompok teman sebaya, remaja mencoba mengambil
keputusan atas diri mereka sendiri. Remaja mengevaluasi nilai-nilai yang
dimilikinya dan yang dimiliki teman sebayanya, serta memtuskan mana yang benar.
Proses mengevaluasi ini dapat membantu remaja mengembangkan kemampuan
penalaran moral mereka.
6. Meningkatkan hargadiri
(self-esteem). Menjadi orang ayang disukai oleh sejumlah besar teman-teman
sebayanya membuat remaja merasa enak atau senang tentang dirinya.
Meskipun selama masa remaja kelompok teman sebaya
memberikan pengaruh yang besar, namun orang tua tetap memainkan peranan yang
penting dalam kehidupan remaja. Hal ini karena hubungan dengan orang tua dan
hubungna dengan teman sebaya memberikan pemenuhan akan kebutuhan-kebutuhan yang
berbeda dalam perkembangan remaja (Savin-Williams dan Berndt, 1990).
C. Persahabatan
Persahabatan adalah hubungan pribadi yang menyangkut
keseluruhan pribadi berdasarkan kepercayaan yang mendalam dengan saling
membagikan sesuatu, menerima suatu yang merupakan
kesempatan untuk memperluas diri.
Ciri-ciri persahabatan
1. Kesejatian. Persahabatan merupakan
hubungan yang sejati. Didalamnya terkandung sejumlah sifat utama, seperti
ketulusan, kejujuran, kesetiaan, dapat dipercaya dan terdapat kehangatan
pribadi. Kesejatian juga mengandung penerimaan tanpa syarat, menghargai
perbedaan individu, dapat mengatasi ketidak sesuaian, dan juga meliputi
kepedulian yang ditandai sikap saling memperhatikan, dsb.
2. Keterbukaan diri. Keterbukaan diri
mengandung pengertian seberapa jauh hubungan itu ditandai dengan adanya
keetrbukaan kedua individu mengenai perasaan dan masalah pribadi masing-masing.
Aspek ini mencurahkan semua perasaan, menceritakan masalah, mengekspresikan
emosi yang bergejolak saat itu kepada sahabatnya, yang tidak dapat diungkapkan
kepada yang lain.
3. Kesamaan. Persahabatan juga memiliki
siri adanya kesamaan antara dua pribadi. Kesamaan itu dapat berupa kesamaan
karakteristik tertentu seperti latar belakang, etnis, agama, kelas sosial,
pendidikan, usia, nilai-nilai, pandangan hidup sikap dan sebagainya. Secara
naluriah, setiap individu menyukai orang yang memiliki kesamaan dengan dirinya.
Kesamaan karakteristik menjadi dasar pembentukan persahabatan.
4. Kebersamaan. Kebersamaan berkaitan
dengan seberapa besar frekwensi kebersamaan yang dijalani oleh kedua belah
pihak. Dalm mengisi waktu luangnya, seorang cenderung memilih teman dekatnay
untuk menikmati dan menghabiskan waktu bersama-sama. Semakin tinggi frekwensi
bersama-sama, semakin besar kemungkinan menjadi akrab. Kebersmaan tidak hanya
dinilai dari kebersamaan secara fisik, tetapi juga non fisik. Tak selamanya
individu yang menjalin persahabatan memiliki kedekatan secara fisik sehingga
kebersamaan dapat juga dinikmati bersama melalui hp, email dan sebagainya.
Fungsi
persahabatan
1. Terhindar dari alienasi (perasaan
terasing dari lingkungan sosialnya). Dampaknya tidak mendapat topangan dari
lingkungannya.
2. Dukungan emosi.
3. Pengembangan pribadi.
4. Mengembangkan ketrampilan sosial.
D. Hubungan dengan sekolah
Disamping keluarga dan teman sebaya, sekolah juga
mempunyai penagruh yang sangat penting bagi perkembangan selam masa pertengahan
dan akhir anak-anak. Betapa baik, selam masa pertengahan akhir anak-anak, anak
menghabiskan kurang lebih 10.000 jam waktunya diruang kelas. Anak-anak
menghabiskan waktu bertahun-tahun dissekolah sebagai anggota suatu masyarakat
harus mengerjakan sejumlah tugas dan mengikuti sejumlah aturan yang menegaskan
dan membatasi perilaku, perasaan dan sikap mereka (Santrock, 1995). Interaksi
dengan guru dan teman sebaya disekolah, memberikan suatu peluan yang besar bagi
anak-anak untuk mengembangkan kemampuan. Kognitif dan keterampilan
sosial, memperoleh pengetahuan tentang dunia, serta mengembangkan konsep diri
sepanjang masa pertengahan dan akhir anak-anak.
Menurut Seifert dan hoffnung (1994), sekolah mempengaruhi
perkembangan anak melalui dua kurikulum, yaituacademic curiculum dan hidden
curiculum. Academic curiculum meliputi sejumlah kewajiban yang diharapkan
dikuasai oleh anak. Ia membantu anak memperoleh pengetahuan akademis dan
kemampuan intelektualyang dibutuhkan untuk keberhasilan berpartisipasi dalm
masyarakat, Hidden Curiculum meliputi sejumlah norma, harapan, dan penghargaan
yang implisif untuk dipikirkan dan dilaksanakan dengan cara-cara tertentu yang
disampaikan melalui hubungan soaial sekolah dan otoritas khususnya yang
berkenaan dengan peran sosial guru-siswa dan perilaku yang diharapkan oleh
masyarakat.
Pengaruh
guru
Slain
dengan orang tua mereka, kebanyakan anak-anak sekolah dasar menghabiskan
lebih banyak waktunya bersama dengan guru-gurundibandingkan dengan orang dewasa
lainnya. Guru merupakan simbol otoritas dan menciptakan iklim kelas dan
kondisi-kondisi interaksi diantara murid-murid oleh sebab itu, sikap guru
terhadap siswa mereka adalah penting, sdbab guru menagmbil suatu peran sentral
dalm kehidupan anak-anak yang sangat menentukan bagaimana mereka merasakan
berada disekolah dan bagaimana mereka merasakan diri mereka. Hal ini terutama
selama tahun-tahun pertama atau kedua mereka masuk sekolah. Study yang
dilakukan stipek (dalam Zigler dan Stevenson,1993) mengenai perubahan sosial
dan perkembangan motivasi anak kelas satu, menunjukkan bahwa pengalaman-pengalaman
keberhasilan atau kegagalan mereka lebih ditentukan oleh interaksi dengan guru
mereka daripada oleh perstasi akademis nyata mereka.
E.Perkembangan Prososial Remaja
1. Pengertian tingkah laku
Terdapat
beberapa pendapat para ahli psikologi tentang prososial diantaranya:
a.
Sears
dkk(1992)
Mendefinisikan
bahwa tingkah laku prososial merupakan tingkah laku yang menguntungkan orang
lain. Menurut Sears tingkah laku prososial meliputi segala bentuk tindakan yang
dilakukan atau direncanakan untuk menolong orang lain, tanpa memperhatikan
motif si penolong.
b. Sri Utari Pidada(1982)
Mendefinisikan
bahwa perilaku prososial adalah suatu tingkah laku yang mempunyai suatu akibat
atau konsekwensi positif bagi patner interaksi, selain itu tingakah laku yang
bias diklasifikasikan sebagai tingakah laku sosial sangat beragam dimulai dari
bentuk yang paling sederhana hingga yang paling luar biasa.
c.
Wispe
(1981)
Tingkah
laku prososial adalah tingkah laku yang mempunyai konsekwensi sosial positif
yaitu menambah kondisi fisik dan psikis orang lain menjadi lebih baik.
d. Brigham (1991)
Menyatakan
bahwa wujud tingkah laku yang mempunyai konsekwensi sosial prososial meliputi:
murah hati(charity), persahabatan (friendship), kerjasama (cooperation),
menolong (helping), penyelamatan (rescuing) dll.
e.
Bar-Tal(1976)
Tingkah
laku prososial merupakan tingkah laku yang dilakukan secara suka rela,
menguntungkan orang lain tanpa antisipasi reward eksternal dan tindakan
prososial ini tidak dilakukan untuk dirinya sendiri.
f.
Lead
(1972)
Menyatakan
tiga criteria yang menentukan tingkah laku prososial(altruistic) yaitu:
1. Tindakan yang bertujuan khusus
menguntungkan orang tanpa mengharap reward eksternal.
2. Tindakan yang dilakukan dengan suka
rela.
3. Tindakan yang menghasilkan hal yang
positif.
g.
Wright
sman dan Deaux (1981)
h. Mendefinisikan perilaku
prososial sebagai perilaku seseorang yang mempunyai konsekuensi sosial posistif
yang ditujukan bagi kesejahteraan orang lain secara fisik maupun psikologis.
Dari beberapa pendapat di atas dapat
kita ambil kesimpulan bahwa tingkah laku prososial adalah tingkah laku sosial
positif yang menguntungkan, yanmg ditujukan bagi kesejahteraan orang lain
sehingga menjadikan kondisi fisik dan psikis orang lain menjadi lebih baik,
selain itu tindakan, prososial dilakukan atas dasar suka rela tanpa
mengharapkan reward eksternal.
Beberapa penelitian yang telah
dilakukan menyatakan bahwa perkembangan perilaku prososial telah dimulai sejak
masa anak-anak. Dengan bertambah nya usia seorang anak, maka empatinya terhadap
orang lain juga akan semakin berkembang. Dalam psikologi perkembangan juga
dikatakan bahwa kemampuan seorang anak dalam berbagai hal akan meningkat sesuai
dengan berkembangnya usia.
2. Sumber perilaku prososial
Sumber
tingkah laku prososial dari dalam diri seseorang sumber endosentris merupakan
keinginan untuk mengubah diri dengan menampilkan self-image secara keseluruhan
indosentris ini meningkatkan konsep diri (self-concept), salah satu bentuk
konsep diri adalah self expectation (harapan diri) yang bberbentuk rasa
bahagia, kebanggaan, rasa aman, evaluasi diri yang positif. Harapan diri muncul
karena seseorang hidup di lingkungan sosial, di mana dalam lingkungan sosial terdapat
makna dan nilai. Norma sosial diperoleh remaja melalui proses sosialisasi yang
kemudian diinternalisasikan sehingga menjadi bagian dari diri remaja itu
Sendiri.
Norma yang diinternalisasikan ke dalam harapan diri terdiri dari:
1. Norms of aiding (norma menolong)
adalah norma sosial untuk menolong orang lain yang membutuhkan.
2. Norms of sosial respon sibility,
adalah suatu norma sosial yang dimana seorang individu menlong orang yang
membutuhkan pertolongan walaupun orang yang ditolong tidak dapat membalas sama
sekali.
3. Norms of giving, adalah norma sosial
dimana seorang menolong dengan suka rela.
4. Norms of justify, adalah suatu norma
sosial dimana tingkah laku menolong didasari oleh norma keadilan yaitu
keseimbangan antar member dan menerima.
5. Normus of reciprocity, adalah suatu
norma sosial di mana seorang individu menolong orang lain karena merasa akan
mendapat imbalan.
6. Normus of quity, adalah suatu norma
sosial di mana seorang individu menolong orang lain karena pernah ditolong
sebelumnya.
b.
eksosentris
adalah
sumber untuk memperhatikan lingkungan eksternal yaitu membuat kondisi lebih
baik dan menolong orang laindari kondisi buruk yang dialami. Orang yang
melakukan tindakan menolong karena mengetahui atau merasakan kebutuhan,
keinginan, dan penderitaan. Hal ini dijelaskan oleh Pilia Vin dan Pilravin
bahwa tindakan menolong terjadi Karena:
1. Adanya pengamatan terhadap kebutuhan
atau penderitaan orang lain.
2. Adanya pengamatan terhadap oleh
orang lain, sehingga menimbulkan motivasi untuk mengiranginya.
3. Perkembangan tingkah laku prososial
Tingkah
laku prososial selalu berkembang sesuai perkembangan manusia, ada 6 tahapan
perkembangan tingkah laku prososial yaitu:
a.
Compliance
dab Concret, defined reinforcement.
Pada
tahap ini individu melakukan tingakah laku menolong karena perintah yang
disertai oleh reward. Pada tahap ini remajha mempunyai perspektif
egosentris yaitu mereka tidak menyadari bahwa orang lain mempunyai pikiran dan
perasaan yang berbeda dengan mereka, selain itu perilaku prososial pada tahap
ini terjadi karena adanya reward dan punishment yang konkrit.
b. Compliance
Pada
tahap ini individu melakukan tindakan menolong karena patuh pada perintah dari
orang yang berkuasa. Tindakan menolong pada tahap ini dimotivasi oleh kebutuhan
untuk mendapat persetujuan dan menghindari hukuman.
c.
Internal
ini tiative dan concret reward
Pada
tahap ini individu menolong karena tergantung pada reward yang akan diterima,
tindakan prososial dimotivasi oleh keinginan untuk mendapatkan keuntungan atau
hadiah.
d. Nominative Behavior
Pada
tahap ini melakukan tindakan prososial untuk memenuhi tuntutan masyarakat.
Individu mengetahui berbagai tingkah laku yang sesuai
dengan
norma masyarakat. Dalam tahap ini individu mampu memehami kebutuhan orang lain
dan merasa simpati dengan penderitaan yang alami, tindakan prososial ini
dilakukan karena adanya norma sosial yang meliputi: norma memberi dan norma
tanggung jawab sosial.
e.
Generalized
Reciprocity
Pada
tahap ini seseorang melakukan tindakan menolong karena adanya kepercayaan
apabila suatu saat ia membutuhkan bantuan maka ia akan mendapatkanya, harapan
reward pada tahap ini non concret yang susah dijelaskan.
f.
Altruistic
Behavior
Pada
tahap ini seseorang melakukan tindakan menolong secara suka rela yang bertujuan
untuk menolong dan menguntungkan orang lain tanpa mengharapkan imbalan,
tindakan prososial dilakukan karena pilihan individu sendiri yang didasarkan
pada prinsip moral. Pada tahap ini individu sudah mulai dapat menilai kebutuhan
orang lain dan tidak mengharapkan hubungan timbale balik untuk tindakanya.
F.Faktor-faktor
yang mempengaruhi perkmbangan tingkah laku
proposial
Tingkah laku proposial dipandang sebagai tingkah laku
yang diperlukan untuk mempertahankan kehidupan, melalui hal ini manusia
menjalankan fungsi kehidupan sebagai penolong dan di tolong.
Ada beberapa faktor yang
mempengaruhi perkembangan tingkah laku proposial, antara lain:
a. Orang tua
Hubungan antara remaja dan orang tua menjadi faktor
penentu utama dalam keberhasilan remaja berperilaku proposial ketika
berinteraksi di lingkungan sosial yang lebih luas, keluarga yang merupakan
kelompok primer bagi remaja memiliki peran penting dalam pembentukan dan arahan
perilaku remaja
Hal-hal yang di peroleh
dari lingkungan keluarga akan menentukan cara-cara remaja belajar memperhatikan
keinginan-keinginan orang lain, belajar bekerja sama, dan menyatakan dirinya
sebagai makhluk sosial.
Cara bertingkah laku, dan
sikap orang tua dalam keluarga akan mempengaruhi suasana remaja dalam melakukan
interaksi dengan lingkungan sosial diluar keluarga. Menurut ahmadi(1988)
keluarga merupakan lingkungan sosial pertama dalam
kehidupan remaja.
b. Guru
Selain orang tua,
sekolah juga mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan tingkah
laku proposial. Di sekolah guru dapat melatih dan mengarahkan tingkah laku
proposial anak dengan menggunakan teknik yang efektif. Teknik bermain peran
mengembangkan sensitivitas terhadap kebutuhan orang lain dan menambah kemampuan
role taking dan empati. Di sekolah guru mempunyai kesempatan mengarahkan anak
dengan menganalisis cerita dalam bahasa yang berbeda.
c. Teman Sebaya
Teman sebaya
mempunyai pengaruh terhadap perkembangan tingkah laku proposial misalnya guru
dapat menggunakan teknik bermain peran, teknik ini melatih anak mempelajari
situasi di mana tingkah laku menolong di peroleh dan bagaimana melaksanakan
tindakan menolong tersebut .
Khususnya pada masa
remaja. Ketika usia remaja, kelompok sosial menjadi sumber utama dalam
perolehan informasi, teman sebaya dapat memudahkan perkembangan tingkah laku
proposial melalui penguatan, pemodelan dan pengarahan .
d. Televisi
Selain sebagai
hiburan, televisi meupakan agen sosial yang penting melalui penggunaan muatan
proposial, televisi bisa mempengaruhi pemirsa.dengan melihat program televisi,
anak juga dapat mempelajari tingkah laku yang tepat dalam situasi tertentu,
televisi juga tidak hanya mengajarkan anak untuk mempertimbangkan berbagai
alternatif tindakan, tetapi juga anak bisa mengerti dengan kebutuhan orang
lain, membentuk tingkah laku proposial dan memudahkan perkembangan empati.
e. Moral dan Agama
Perkembangan tingkah laku
proposial juga erat kaitanya dengan aturan agama dan moral. Menurut Sears
dkk(1992)Menyatakan bahwa aturan agama dan moral kebanyakan masyarakat
menekankan kewajiban menolong.
G.Implikasi tingkah Laku prososial dengan Konseling
Beberapa strategi yang
dapat di gunakan oleh guru pembimbing dalam upaya peserta didik dalam memperoleh
tingkah laku interpersonal yang efektif :
1. Mengajarkan
ketrampilan sosial dan strategi pemecahan sosial
2. Menggunakan
strategi pembelajaran yang koperatif
3. Meningkatkan
kesadaran siswa terhadap efektifitas ketrampilan sosial dengan mencerminkan
ketrampilan sosial tersebut
4. Mengajak siswa
untuk memikirkan dampak dari perilaku yang mereka miliki.
Dalam hal implikasi
perkembangan tingkah laku proposial terhadap konseling ini juga dapat dikaitkan
dengan fungsi-fungsi konseling, selain itu konselor atau guru pembimbing juga
dapat bekerja sama dengan pihak terkait.
18
BAB III
KESIMPULAN
A. Gaya pengasuhan ada 3;
authoritarian parentinguthoritarian parenting, dan permissive parenting. Di
antara gaya pengasuhan tersebut, yang paling baik adalah authoritarian
parenting.
Anak yang
dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang tidak harmonis, maka resiko gangguan
kepribadian anti social dan berperilak menyimpang lebih besar dibandingkan
dengan anak yang dibesarkan di lingkungan keluarga yang harmonis
B. Pengertian teman sebaya;. Semua
orang yang memiliki kesamaan social, cirri- ciri, tingkah laku dan psikologis.
Fungsi
teman sebaya; sumber informasi tentang kemampuan dan tolok ukur untuk
membandingkan diri anak.
C. Persahabatan adalah hubungan pribadi
yang menyangkut keseluruhan pribadi brdasarkan kepercayaan yag mendalam dan
saling membagikan sesuatu,menerima seesuatu yang merupakan kesempataan untuk
mempeerluas diri.
D. Anak menghabiskankuranglebih 10000
waktunya di ruang kelas. Fungsi sekolah terhadap anak ada 2; academic
curriculum dan hiden curriculum
E. Tingkahlaku prososial adalah
tingkah laku positif yang menguntungkan, ditujukan ejahteraan orang lain,
sehingga kondisi fisik maupun psikis orang lain menjadi lebih baik.
F. Faktor yang mempengaruhi tingkah
laku prososial; orang tua, guru, teman sebaya televisi, moral dan agama.
G. Implikasi tingkah Laku prososial
dengan Konseling
1.Mengajarkan
ketrampilan sosial dan strategi pemecahan sosial
2.
Menggunakan
strategi pembelajaran yang koperatif
3.Meningkatkan
kesadaran siswa terhadap efektifitas ketrampilan sosial dengan mencerminkan
ketrampilan sosial tersebut.
4.Mengajak siswa
untuk memikirkan dampak dari perilaku yang mereka miliki
DAFTAR PUSTAKA
Desmita.2010.Psikologi
Perkembangan.Bandung:PT Remaja Rosdakarya
Nashori,
Fuad.2008.Psikologi Sosial Islami.Bandung:PT Refika Aditama
No comments:
Post a Comment